News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Iran Vs Amerika Memanas

Iran dan Oman Rancang Mekanisme Transit Baru untuk Selat Hormuz

Penulis: Tiara Shelavie
Editor: Suci BangunDS
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Ringkasan Berita:

  • Iran dan Oman sedang menyusun mekanisme baru untuk mengatur keamanan transit di Selat Hormuz.
  • Ketegangan di Selat Hormuz meningkat setelah AS memperketat blokade terhadap kapal dan pelabuhan Iran.
  • Pakar menilai AS berpotensi melanjutkan serangan terhadap Iran dalam waktu dekat akibat tekanan politik internal dan eksternal.

TRIBUNNEWS.COM - Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan pihaknya terus melakukan konsultasi dengan Oman untuk merancang mekanisme baru yang mengatur transit melalui Selat Hormuz.

Mengutip PressTV, Baghaei menyampaikan pernyataan tersebut dalam konferensi pers mingguan pada Senin (18/5/2026).

Ia mengatakan, Selat Hormuz merupakan jalur maritim vital yang kepentingannya meluas jauh melampaui Iran, Oman, dan negara-negara kawasan hingga ke seluruh dunia.

“Republik Islam Iran selalu melakukan upaya besar untuk menjaga transit yang aman dan terjamin melalui jalur ini dan terus bersikeras bahwa transit melalui Selat Hormuz harus dilakukan dengan cara terbaik dan dengan keamanan penuh,” tambahnya.

Ia menekankan bahwa Iran dan Oman menganggap diri mereka berkewajiban mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk memastikan transit yang aman melalui Selat Hormuz karena jalur tersebut berada di perairan teritorial kedua negara.

“Serangan terhadap Republik Islam Iran sebagai negara pesisir mendorong Teheran untuk mengambil serangkaian tindakan berdasarkan hukum internasional guna mempertahankan kedaulatan nasional, integritas teritorial, dan keamanan nasionalnya."

"Tindakan-tindakan ini diizinkan berdasarkan hukum internasional dan peraturan domestik Iran serta sepenuhnya sesuai dengan kewajiban hukum negara tersebut,” kata Baghaei.

Baghaei menegaskan, proses tersebut masih terus berlangsung.

Baca juga: CENTCOM AS Akui Berlakukan Blokade, Selat Hormuz Dianggap Jadi Senjata Iran Ancam Kebebasan Navigasi

“Saat ini kami terus berhubungan dengan Oman dan pihak-pihak terkait lainnya untuk merancang mekanisme yang dapat mewujudkan tujuan ini.”

Ia juga mencatat bahwa pertemuan antara para ahli Iran dan Oman telah digelar di Muscat pekan lalu.

Menurutnya, kontak dan konsultasi antara kedua negara terkait masalah ini terus berlangsung tanpa hambatan.

Komentar Baghaei muncul di tengah meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz, koridor maritim penting yang dilalui sebagian besar perdagangan energi dunia.

Iran menutup selat tersebut bagi musuh-musuhnya dan sekutu mereka setelah serangan AS-Israel.

Otoritas Iran mulai memberlakukan kontrol yang jauh lebih ketat bulan lalu setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan blokade yang menargetkan kapal dan pelabuhan Iran.

Iran mengatakan tindakan tersebut melanggar ketentuan gencatan senjata yang dimediasi Pakistan, yang mulai berlaku pada 8 April 2026 dan kemudian diperpanjang secara sepihak oleh AS.

Kelanjutan Perundingan Perdamaian AS dan Iran

Sementara itu, Pakistan baru saja membagikan proposal perdamaian dari Iran yang telah direvisi kepada Amerika Serikat pada Minggu (17/5/2026), lapor Reuters pada Senin, mengutip sumber Pakistan.

Mengutip Iran International, Presiden AS Donald Trump mengatakan Iran sangat ingin mencapai kesepakatan, tetapi menuduh negara itu mengubah persyaratan setelah kesepakatan dibahas dalam sebuah wawancara dengan Fortune.

“Mereka selalu berteriak,” kata Trump.

“Saya dapat memberi tahu Anda satu hal, mereka sangat ingin menandatangani kesepakatan. Tetapi mereka membuat kesepakatan, lalu mengirimkan dokumen yang tidak ada hubungannya dengan kesepakatan yang telah dibuat. Saya berkata, ‘Apakah kalian gila?’”

Trump juga mengatakan, angka-angka ekonomi, termasuk suku bunga, tidak dapat dinilai sepenuhnya sampai konflik berakhir.

“Anda tidak dapat benar-benar melihat angka-angka tersebut sampai perang berakhir.”

Pakar: AS Mungkin Akan Melanjutkan Serangannya terhadap Iran dalam 24-48 Jam ke Depan

Mohamad Elmasry, profesor Studi Media di Institut Studi Pascasarjana Doha, berpendapat AS kemungkinan akan melanjutkan perang terhadap Iran dalam satu atau dua hari ke depan.

Hal itu, menurut Elmasry kepada Al Jazeera, disebabkan Trump mendapat tekanan dari berbagai pihak, termasuk Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan kelompok garis keras di dalam pemerintahannya sendiri.

“Dia belum mendapatkan penyerahan diri yang diinginkannya dari Iran dan yang diharapkannya dari Iran."

"Trump juga mengharapkan negosiasi berjalan berbeda dan memiliki harapan tinggi selama pertemuan puncak baru-baru ini di China bersama Xi Jinping.”

Elmasry mengatakan, akan lebih bijaksana bagi Trump untuk mengakhiri perang pada tahap ini karena konflik tersebut telah menjadi bencana politik dan ekonomi bagi dirinya maupun AS.

Namun, menurutnya, Trump kemungkinan besar tidak akan melakukannya karena ia tidak dapat kembali kepada rakyat Amerika dengan deklarasi kemenangan yang meyakinkan.

(Tribunnews.com, Tiara Shelavie)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini