TRIBUNNEWS.COM - Iran memperingatkan akan membuka “front baru” terhadap Amerika Serikat (AS) jika Washington kembali melanjutkan serangan militernya ke wilayah Republik Islam tersebut.
Ancaman itu disampaikan juru bicara militer Iran, Mohammad Akrami Nia, di tengah meningkatnya ketegangan setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan siap melancarkan serangan baru apabila negosiasi nuklir gagal mencapai kesepakatan.
Dalam pernyataannya yang dikutip Kantor Berita Mahasiswa Iran (ISNA), Akrami Nia menegaskan bahwa militer Iran telah memanfaatkan masa gencatan senjata untuk memperkuat kemampuan tempurnya.
“Jika musuh cukup gegabah untuk kembali melancarkan agresi terhadap negara kami, kami akan membuka front baru melawan mereka dan menggunakan peralatan serta metode baru,” ujarnya, Selasa (19/5/2026).
Ia juga menekankan bahwa Iran tidak berada dalam posisi lemah meski perang sebelumnya menimbulkan kerusakan besar.
Menurutnya, angkatan bersenjata Iran tetap menguasai situasi strategis di Selat Hormuz dan kondisi di jalur vital perdagangan minyak dunia itu “tidak akan pernah kembali seperti sebelumnya.”
Menlu Iran: Akan Ada Banyak Kejutan jika Kembali Berperang
Menteri Luar Negeri Seyyed Abbas Araghchi mengatakan akan ada banyak kejutan di medan perang jika AS memilih untuk melanjutkan perangnya.
"Yakinlah bahwa kembalinya ke medan perang akan disertai dengan lebih banyak kejutan," kata Araghchi dalam sebuah pesan yang dipublikasikan di jejaring sosial X, Selasa.
"Beberapa bulan setelah dimulainya perang melawan Iran, Kongres AS mengakui hancurnya puluhan pesawat senilai miliaran dolar," lanjutnya.
Baca juga: Jika Negosiasi Gagal, Trump: AS Mungkin Akan Serang Iran dalam 2-3 Hari
Araghchi mengatakan bahwa angkatan bersenjata Iran adalah kekuatan pertama di dunia yang menembak jatuh jet tempur F-35 milik AS yang terkenal canggih.
Ia mengindikasikan bahwa Iran memiliki pengetahuan untuk menembak kendaraan atau menargetkan militer AS.
Menteri tersebut menegaskan Teheran mampu memberi kejutan baru seperti ketika militer Iran menembak jatuh jet tempur F-35 milik AS.
"Dengan apa yang kita pelajari dan pengetahuan tersebut, yakinlah bahwa kembali berperang akan disertai banyak kejutan," tegasnya, lapor Tasnim.
Trump Mungkin akan Kembali Serang Iran
Pernyataan tersebut muncul setelah Donald Trump mengatakan bahwa Amerika Serikat hanya menunda, bukan membatalkan, rencana serangan baru terhadap Iran.
Trump menyebut Washington siap melancarkan “serangan skala penuh dan komprehensif kapan saja” apabila Teheran tidak menerima kesepakatan yang dianggap memadai oleh AS.
Baca tanpa iklan