Pemerintah Inggris menyatakan izin tersebut akan berlaku hingga 1 Januari 2027. Langkah ini dinilai menunjukkan bahwa sejumlah negara Barat masih memberi ruang tertentu bagi perdagangan energi Rusia demi menjaga stabilitas pasokan energi global.
Proyek Sakhalin-2 dan Yamal sendiri merupakan dua proyek LNG terbesar Rusia yang memasok gas ke berbagai negara, terutama di kawasan Asia.
Meski menuai kritik dari sebagian pihak, kebijakan tersebut dipandang sebagai upaya pragmatis untuk menghindari gangguan besar pada pasar energi internasional.
Ukraina Serang Kilang Minyak Rusia, Moskow Balas dengan Ratusan Drone
Perang Rusia-Ukraina kembali memanas setelah Ukraina melancarkan serangan terhadap fasilitas energi Rusia, sementara Moskow membalas dengan serangan drone besar-besaran ke wilayah Ukraina.
Staf Umum Militer Ukraina pada Selasa menyatakan pasukannya berhasil menyerang kilang minyak dan stasiun pemompaan minyak Rusia dalam 48 jam terakhir. Salah satu wilayah yang menjadi sasaran adalah kawasan industri di sekitar Nevinnomyssk, Stavropol, Rusia selatan.
Gubernur Stavropol, Vladimir Vladimirov, mengatakan daerah tersebut diserang pesawat nirawak pada Rabu dini hari. Kawasan itu diketahui menjadi lokasi pabrik kimia besar Nevinnomyssky Azot, yang sebelumnya juga pernah menjadi target serangan Ukraina.
Di sisi lain, Rusia melancarkan serangan besar menggunakan 209 drone ke Ukraina pada malam sebelumnya. Serangan tersebut menewaskan sedikitnya lima warga sipil dan melukai 24 lainnya, menurut pejabat Ukraina.
Gubernur wilayah Dnipro, Oleksandr Hanzha, mengatakan lima orang terluka setelah serangan Rusia menghantam kota Dnipro di tenggara Ukraina. Rangkaian serangan terbaru ini menunjukkan bahwa pertempuran antara kedua negara masih terus meningkat meski berbagai upaya diplomasi internasional terus dilakukan.
Latar Belakang Perang Rusia Vs Ukraina
Perang Rusia–Ukraina secara terbuka pecah pada 24 Februari 2022 ketika Rusia melancarkan invasi militer besar-besaran ke wilayah Ukraina. Meski demikian, konflik antara kedua negara sebenarnya telah berkembang selama bertahun-tahun dan berakar dari perubahan geopolitik pasca runtuhnya Uni Soviet pada 1991, saat Ukraina resmi menjadi negara merdeka dan mulai menentukan arah politik serta kebijakan luar negerinya sendiri.
Seiring waktu, Ukraina semakin mendekat ke negara-negara Barat, termasuk Uni Eropa dan Amerika Serikat. Ukraina juga menunjukkan keinginan untuk mempererat hubungan dengan NATO. Langkah tersebut dipandang Moskow sebagai ancaman langsung terhadap pengaruh Rusia di kawasan Eropa Timur dan dianggap berpotensi mengganggu keamanan strategis Rusia di perbatasannya.
Ketegangan meningkat tajam pada 2014 setelah terjadinya Revolusi Maidan, yaitu gelombang demonstrasi besar di Ukraina yang berujung pada jatuhnya pemerintahan Presiden Viktor Yanukovych yang dikenal dekat dengan Moskow. Setelah peristiwa itu, Rusia menganeksasi Semenanjung Krimea dan mendukung kelompok separatis pro-Rusia di wilayah Donetsk dan Luhansk, kawasan yang dikenal sebagai Donbas. Konflik bersenjata di wilayah tersebut kemudian berlangsung selama bertahun-tahun dan menewaskan ribuan orang.
Berbagai upaya diplomasi sebenarnya sempat dilakukan untuk meredakan konflik, termasuk melalui Perjanjian Minsk yang dimediasi oleh Prancis dan Jerman. Namun, implementasi kesepakatan itu berjalan sulit karena kedua pihak saling menuduh melakukan pelanggaran.
Pada Februari 2022, Presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan dimulainya “operasi militer khusus” di Ukraina. Rusia menyatakan tindakan itu bertujuan melindungi warga berbahasa Rusia di wilayah timur Ukraina serta mencegah perluasan pengaruh NATO. Namun Ukraina dan negara-negara Barat menilai langkah tersebut sebagai invasi yang melanggar kedaulatan negara.
Sejak perang dimulai, Amerika Serikat, Uni Eropa, dan sekutu Barat lainnya memberikan dukungan militer, ekonomi, serta bantuan kemanusiaan besar kepada Ukraina. Di sisi lain, Rusia menghadapi berbagai sanksi internasional yang menargetkan sektor ekonomi, energi, hingga keuangan.
Perang ini juga berdampak luas terhadap dunia, termasuk krisis energi, gangguan pasokan pangan global, serta meningkatnya ketegangan geopolitik internasional. Hingga kini, konflik masih berlangsung meskipun berbagai jalur negosiasi dan mediasi terus diupayakan oleh sejumlah negara dan organisasi internasional untuk mencapai gencatan senjata maupun kesepakatan damai permanen.
(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)
Baca tanpa iklan