News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Virus Ebola

WHO: Wabah Ebola di Kongo Diduga Sudah Menyebar Selama Dua Bulan

Editor: Tiara Shelavie
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

WABAH EBOLA - Foto yang dirilis oleh CDC, menampilkan seorang petugas kesehatan memeriksa seorang pasien penyakit Ebola di Uganda, tahun 2000. WHO menyebut wabah Ebola strain Bundibugyo di Kongo kemungkinan sudah dimulai sejak dua bulan lalu.

Ringkasan Berita:

  • WHO menyebut wabah Ebola strain Bundibugyo di Kongo kemungkinan sudah dimulai sejak dua bulan lalu.
  • Wabah ini telah dikaitkan dengan lebih dari 130 kematian dan ratusan kasus suspek di Kongo serta Uganda.
  • Karena belum ada vaksin khusus untuk strain tersebut, WHO dan sejumlah negara kini mempercepat upaya penanganan wabah.

TRIBUNNEWS.COM - Wabah Ebola yang terkait dengan lebih dari 130 kematian di wilayah timur Democratic Republic of the Congo kemungkinan sudah dimulai dua bulan lalu dan diperkirakan masih akan terus berkembang, kata World Health Organization (WHO) pada Rabu (20/5/2026).

Dilansir Reuters, wabah virus Ebola varian langka Bundibugyo—yang hingga kini belum memiliki vaksin—diumumkan pada Jumat lalu dan memicu kekhawatiran para ahli karena penyebarannya tidak terdeteksi dalam waktu cukup lama di daerah padat penduduk. Kondisi ini membuat pelacakan dan isolasi kontak pasien menjadi sulit dilakukan.

WHO sebelumnya menyebut adanya “kesenjangan deteksi kritis selama empat minggu” antara munculnya gejala pada kasus pertama yang diketahui hingga konfirmasi laboratorium atas wabah tersebut.

“Penyelidikan masih berlangsung untuk memastikan kapan dan di mana tepatnya wabah ini dimulai,” kata Anais Legand, pejabat teknis WHO untuk ancaman virus, kepada wartawan di Jenewa. “Melihat skalanya, kami memperkirakan wabah ini mungkin sudah dimulai beberapa bulan lalu.”

Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengatakan sejauh ini telah tercatat sekitar 600 kasus suspek dan 139 kematian suspek. Sebanyak 51 kasus telah dikonfirmasi melalui tes laboratorium di Kongo, sementara dua kasus lainnya juga terkonfirmasi di negara tetangga, Uganda.

Tedros mengatakan Komite Darurat WHO telah bertemu pada Selasa dan menetapkan wabah ini sebagai darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional, tetapi belum termasuk status darurat pandemi.

Baca juga: WHO Tetapkan Ebola Darurat Global, Kemenkes RI Minta Rumah Sakit hingga Puskesmas Siaga

Ia mengambil langkah darurat tersebut pada akhir pekan lalu tanpa terlebih dahulu berkonsultasi dengan para ahli, sesuatu yang jarang dilakukan kepala WHO, karena situasi dianggap sangat mendesak.

“WHO menilai risiko epidemi ini tinggi di tingkat nasional dan regional, namun rendah di tingkat global,” ujar Tedros.

Diduga Ada Peristiwa Super-Spreader

Varian Bundibugyo Ebola yang menyebabkan wabah ini memiliki tingkat kematian rata-rata sekitar 40 persen, menurut WHO. Berbeda dengan varian Zaire yang lebih umum, hingga kini belum ada terapi khusus maupun vaksin yang disetujui untuk strain ini, dan kapasitas pengujiannya juga masih terbatas.

Para ahli WHO mengatakan dua kandidat vaksin sedang dipertimbangkan untuk digunakan, tetapi pengembangannya dapat memakan waktu tiga hingga sembilan bulan.

Wabah Ebola varian Zaire di timur Kongo pada 2018 hingga 2020 merupakan wabah paling mematikan kedua dalam sejarah, dengan hampir 2.300 korban jiwa.

“Prioritas utama kami sekarang adalah mengidentifikasi seluruh rantai penularan yang ada, sehingga kami bisa menentukan skala wabah dan memberikan perawatan,” kata kepala kedaruratan WHO, Chikwe Ihekweazu.

Para ahli WHO menyebut kematian pertama yang diduga akibat Ebola dilaporkan pada 20 April. Mereka menduga setelah itu terjadi peristiwa penyebaran besar-besaran (super-spreader), kemungkinan di acara pemakaman atau fasilitas kesehatan.

Reuters sebelumnya melaporkan bahwa konfirmasi wabah sempat tertunda akibat kesalahan prosedur tenaga medis, termasuk kegagalan awal untuk mengirim sampel ke pengujian lanjutan setelah hasil awal menunjukkan negatif untuk strain Zaire.

AS dan Afrika Selatan Salurkan Dana Bantuan

Di antara kasus Ebola yang terkonfirmasi terdapat seorang dokter asal Amerika Serikat yang bekerja di Kongo dan telah dipindahkan ke Jerman. Dokter AS lainnya yang sempat kontak dengan pasien Ebola juga dipindahkan dari Uganda ke rumah sakit di Prague, Czech Republic, menurut pejabat setempat.

Pemerintah United States mengatakan telah mengerahkan dana awal sebesar 13 juta dolar AS untuk membantu penanganan wabah, termasuk membantu membuka 50 klinik pengobatan Ebola.

Beberapa ahli menilai keterlambatan deteksi wabah ini juga menunjukkan adanya kelemahan kesiapsiagaan setelah pemotongan dana kesehatan global oleh Amerika Serikat dan donor besar lainnya.

Tedros mengatakan masih terlalu dini untuk memastikan apakah pemotongan dana di Kongo atau WHO turut berkontribusi terhadap keterlambatan deteksi maupun respons wabah.

Sementara itu, Africa Centres for Disease Control and Prevention mengatakan pada Rabu bahwa South Africa telah menjanjikan bantuan sebesar 2,5 juta dolar AS untuk mendukung penanganan wabah Ebola.

(*)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini