Mahkamah menyatakan bahwa indikasi kepemilikan atau kendali atas aset tidak harus dibuktikan secara langsung, tetapi juga dapat dilihat dari keadaan tertentu maupun “struktur hukum yang terlalu rumit”.
Keputusan itu diperkirakan akan memperluas ruang gerak Uni Eropa dalam memburu aset-aset milik oligarki Rusia yang diduga berupaya menyembunyikan kekayaan mereka melalui jaringan perusahaan dan perwalian internasional.
Ukraina Klaim Kemajuan Besar di Garis Depan, Rusia Mulai Terdesak
Pasukan Ukraina dilaporkan berhasil memukul mundur sejumlah posisi Rusia di beberapa sektor garis depan dan mencatat kemajuan medan perang paling signifikan sejak 2024.
Laporan tersebut disampaikan oleh Institute for the Study of War dalam penilaian terbarunya pada Rabu.
Lembaga think tank yang berbasis di AS itu menyebut kampanye serangan jarak menengah Ukraina sejak awal 2026 telah mengurangi kemampuan Rusia untuk menjalankan operasi ofensif secara efektif di berbagai wilayah pertempuran.
“Kampanye serangan jarak menengah yang intensif Ukraina sejak awal 2026 juga telah menurunkan kemampuan pasukan Rusia untuk melakukan operasi ofensif di seluruh wilayah operasi dan kemungkinan mendukung kemajuan Ukraina baru-baru ini,” tulis laporan tersebut.
Rusia Kehilangan Akses Starlink, Ukraina Mulai Rebut Inisiatif Perang
Ukraina mengklaim mulai mendapatkan kembali kendali di sejumlah wilayah garis depan setelah Rusia kehilangan akses terhadap layanan satelit Starlink untuk operasi drone mereka.
Menteri Pertahanan Ukraina Mykhailo Fedorov mengatakan hilangnya akses tersebut membuat kemampuan tempur Rusia melemah dan memperlambat laju serangan mereka.
“Sejak saat itu Rusia belum dapat menemukan pengganti penuh untuk Starlink, yang memberi Ukraina keuntungan penting di medan perang,” kata Fedorov.
Menurutnya, kondisi itu membantu Ukraina memperlambat kemajuan Rusia sekaligus secara bertahap merebut kembali inisiatif dalam pertempuran di garis depan, seperti diberitakan The Guardian.
Rusia dan Belarus Gelar Latihan Nuklir Besar, Rudal Hipersonik Diluncurkan
Rusia dan Belarus menggelar tahap akhir latihan nuklir gabungan mereka dengan meluncurkan sejumlah rudal strategis, termasuk rudal balistik Yars dan rudal hipersonik Zircon.
Kementerian Pertahanan Rusia pada Kamis menyatakan latihan tersebut melibatkan berbagai unsur kekuatan nuklir strategis Rusia, mulai dari kapal selam bertenaga atom hingga unit rudal balistik antarbenua.
Dalam latihan itu, truk peluncur rudal bergerak melintasi kawasan hutan, kapal selam nuklir berlayar dari pangkalan di Arktik dan Pasifik, sementara awak pesawat tempur menjalankan simulasi kesiapan tempur.
Latihan militer besar tersebut digelar di tengah meningkatnya ketegangan antara Rusia dan Barat terkait perang yang masih berlangsung di Ukraina.
Latar Belakang Perang Rusia Vs Ukraina
Perang Invasi Rusia ke Ukraina mulai pecah secara terbuka pada 24 Februari 2022 ketika Rusia melancarkan serangan militer besar-besaran ke wilayah Ukraina. Namun, akar konflik kedua negara sebenarnya telah berlangsung lama sejak runtuhnya Uni Soviet pada 1991, ketika Ukraina resmi merdeka dan mulai menentukan arah politik serta kebijakan luar negerinya sendiri.
Dalam perkembangannya, Ukraina semakin mendekat ke negara-negara Barat seperti Amerika Serikat dan Uni Eropa. Kiev juga menunjukkan keinginan untuk bergabung dengan NATO. Langkah tersebut dipandang Rusia sebagai ancaman terhadap pengaruh dan keamanan strategisnya di kawasan Eropa Timur.
Ketegangan semakin meningkat pada 2014 setelah terjadinya Revolusi Maidan, yakni gelombang demonstrasi besar yang menggulingkan Presiden Ukraina saat itu, Viktor Yanukovych, yang dikenal dekat dengan Moskow. Setelah peristiwa tersebut, Rusia mencaplok Semenanjung Krimea dan mendukung kelompok separatis pro-Rusia di wilayah Donetsk dan Luhansk di kawasan Donbas. Konflik bersenjata di wilayah itu kemudian berlangsung bertahun-tahun dan menewaskan ribuan orang.
Berbagai upaya damai sempat dilakukan, termasuk melalui Perjanjian Minsk yang dimediasi Prancis dan Jerman. Namun, kesepakatan tersebut sulit diterapkan karena kedua pihak saling menuduh melanggar isi perjanjian.
Pada Februari 2022, Presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan dimulainya “operasi militer khusus” di Ukraina. Moskow mengklaim langkah itu bertujuan melindungi warga berbahasa Rusia di Ukraina timur dan mencegah perluasan pengaruh NATO. Namun, Ukraina dan negara-negara Barat menilai tindakan tersebut sebagai invasi yang melanggar kedaulatan negara.
Sejak perang dimulai, Amerika Serikat, Uni Eropa, dan sekutu Barat lainnya memberikan bantuan militer, ekonomi, dan kemanusiaan dalam jumlah besar kepada Ukraina. Sementara itu, Rusia menghadapi berbagai sanksi internasional yang menyasar sektor ekonomi, energi, hingga keuangan.
Konflik ini juga memicu dampak global, mulai dari krisis energi dan gangguan pasokan pangan hingga meningkatnya ketegangan geopolitik dunia. Hingga kini, perang masih berlangsung meski berbagai upaya negosiasi dan mediasi terus dilakukan untuk mencapai gencatan senjata maupun perdamaian permanen.
(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)
Baca tanpa iklan