TRIBUNNEWS.COM – Pemerintah Rusia di bawah pimpinan Vladimir Putin secara resmi meminta warga negara asing dan personel diplomatik segera meninggalkan ibu kota Ukraina, Kyiv.
Pengumuman ini dilontarkan tak lama setelah Rusia mengaku tengah mempersiapkan “serangan sistematis” yang menyasar fasilitas industri pertahanan Ukraina di ibu kota.
Ministry of Foreign Affairs of the Russian Federation menyatakan bahwa pasukan Rusia nantinya akan menargetkan lokasi-lokasi yang dianggap terlibat dalam produksi, pemrograman, hingga pengoperasian drone militer Ukraina.
Rusia menilai fasilitas industri pertahanan Ukraina kini menjadi bagian penting dalam operasi militer Kyiv karena digunakan untuk membuat dan mengendalikan drone tempur.
Selain itu, Moskow juga mendukung adanya bantuan dari negara-negara NATO dalam pengembangan teknologi drone Ukraina.
Karena itulah, Rusia memperingatkan bahwa kawasan industri pertahanan, pusat komando militer, hingga lokasi yang disebut sebagai “pusat pengambilan keputusan” berpotensi menjadi sasaran serangan udara berikutnya.
Peringatan evakuasi terhadap warga asing dikeluarkan karena Rusia mengantisipasi meningkatnya intensitas serangan di Kyiv dalam beberapa waktu ke depan.
Moskow meminta warga sipil menghindari area militer dan bangunan administrasi penting demi keselamatan.
Ukraina Bantah Serang Warga Sipil di Starobilsk
Pemerintah Rusia sebelumnya menuduh pasukan Ukraina menyerang sebuah asrama mahasiswa dan kompleks kampus di wilayah yang saat ini diduduki Rusia tersebut.
Pejabat Rusia mengklaim serangan itu menyebabkan sedikitnya 21 orang tewas dan 63 lainnya mengalami luka-luka. Operasi pencarian dan penyelamatan disebut berlangsung hingga pekan kemarin sebelum akhirnya seluruh korban berhasil ditemukan.
Baca juga: FIFA Rilis Lokasi Latihan 48 Negara, Timnas Iran Menepi dari Amerika Serikat
Namun tuduhan tersebut langsung dibantah oleh pemerintah Ukraina. Staf Umum Angkatan Bersenjata Ukraina menegaskan bahwa pasukan mereka tidak pernah menargetkan warga sipil maupun fasilitas sipil dalam operasi militer di Starobilsk.
Menurut Kyiv, target sebenarnya adalah fasilitas militer Rusia yang berada di wilayah tersebut, termasuk markas unit drone Rubikon yang disebut terlibat dalam serangan terhadap warga sipil Ukraina selama perang berlangsung.
Pemerintah Ukraina juga menegaskan bahwa seluruh operasi militernya dilakukan sesuai hukum humaniter internasional dan hanya menyasar infrastruktur militer yang digunakan untuk kepentingan perang.
Meski demikian, insiden di Starobilsk membuat situasi konflik semakin memanas. Vladimir Putin dilaporkan langsung memerintahkan militer Rusia menyiapkan tindakan balasan terhadap Ukraina.
Tak lama setelah perintah tersebut keluar, Rusia melancarkan salah satu serangan udara terbesar sejak perang dimulai.
Baca tanpa iklan