Jalur tersebut merupakan rute vital yang dilalui hampir seperlima pasokan minyak dan gas dunia.
Di sisi lain, AS terus menjalankan blokade terhadap sejumlah pelabuhan Iran.
Langkah saling tekan itu membuat negosiasi damai berjalan sangat rapuh.
Para analis menilai Iran dan AS kini sama-sama berusaha meningkatkan posisi tawar sebelum kesepakatan permanen benar-benar tercapai.
Baca juga: Mengenal Drone Tempur MQ-9 Reaper AS yang Dihancurkan IRGC, Disebut Miliki Serangan Presisi Tinggi
Serangan dan Blokade Terus Berlanjut
Ketegangan sebenarnya sudah terus meningkat sejak perang pecah pada 28 Februari 2026.
Amerika Serikat dan Israel sebelumnya menyerang Iran dengan tuduhan Teheran mengembangkan senjata nuklir.
Iran membantah tuduhan tersebut.
Sebagai balasan, Iran meluncurkan rudal dan drone ke Israel serta pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah.
Pada 8 April, kedua pihak sepakat menghentikan perang sementara setelah mediasi Pakistan.
Setelah itu, berbagai insiden terus terjadi.
Mulai dari penyitaan kapal, serangan drone, hingga kebakaran fasilitas energi di kawasan Teluk.
AS bahkan memberlakukan blokade angkatan laut terhadap pelabuhan Iran.
Sementara Iran memperketat pengawasan kapal asing di Selat Hormuz.
Diplomasi Damai Masih Buntu
Baca juga: AS Rungkad Lagi! IRGC Berhasil Tembak Jatuh Drone Canggih MQ-9 Reaper, Jet F-35 Hampir jadi Sasaran
Meski konflik terus memanas, pembicaraan damai masih berlangsung melalui mediasi Qatar dan Pakistan.
Iran dilaporkan meminta pencairan aset miliaran dolar yang dibekukan serta pelonggaran sanksi minyak.
Baca tanpa iklan