TRIBUNNEWS.COM - Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menggelar sidang darurat atas permintaan Prancis pada Senin, 1 Juni 2026 malam, menyusul meningkatnya eskalasi konflik di Lebanon selatan.
Pertemuan tersebut digelar setelah militer Israel memperluas operasi daratnya hingga ke wilayah yang lebih dalam di Lebanon, sementara Hizbullah meningkatkan serangan roket, rudal, dan drone ke berbagai wilayah Israel.
Kekhawatiran internasional semakin meningkat setelah pasukan Israel dilaporkan merebut Kastel Beaufort di dekat Nabatiyeh, sebuah lokasi strategis dan simbolis yang pernah menjadi basis militer Israel selama pendudukan Lebanon Selatan pada periode 1982–2000.
Di saat yang sama, serangan di dekat sebuah rumah sakit di Kota Tyre dilaporkan melukai sejumlah tenaga medis.
Asisten Sekretaris Jenderal PBB untuk Urusan Politik dan Operasi Perdamaian, Martha Ama Akyaa Pobee, mengatakan situasi di Lebanon saat ini "sangat mengkhawatirkan".
Menurutnya, pasukan Israel terus bergerak ke utara wilayah Lebanon, sementara Hizbullah memperluas jangkauan serangannya lebih jauh ke wilayah Israel.
Pobee menjelaskan bahwa Israel telah meningkatkan operasi militernya dengan bergerak ke utara Sungai Litani, memperluas serangan udara hingga ke Lembah Beqaa dan pinggiran Beirut, serta mengeluarkan perintah evakuasi bagi warga sipil di sejumlah wilayah.
Sementara itu, Hizbullah terus melancarkan puluhan serangan menggunakan roket, rudal antitank, drone serat optik, hingga rudal permukaan-ke-udara terhadap target-target Israel.
Menurut PBB, perkembangan tersebut mengancam kesepakatan penghentian permusuhan yang diumumkan Amerika Serikat pada 16 April lalu dan berisiko menghancurkan upaya diplomasi yang sedang berlangsung.
Pobee juga menegaskan bahwa keberadaan pasukan Israel di utara Garis Biru (Blue Line) merupakan pelanggaran terhadap kedaulatan Lebanon dan Resolusi 1701 Dewan Keamanan PBB.
Baca juga: Iran Tangguhkan Negosiasi dengan AS Gara-gara Israel Serang Lebanon, Apa Kata Trump?
Di sisi lain, ia juga menegaskan bahwa Hizbullah dan kelompok bersenjata non-negara lainnya harus melucuti senjata karena Angkatan Bersenjata Lebanon merupakan satu-satunya kekuatan militer yang sah di negara tersebut.
Israel: Kami Terpaksa Bertindak
Dalam sidang tersebut, Duta Besar Israel untuk PBB, Danny Danon, membela operasi militer negaranya. Menurutnya, Israel tidak memiliki pilihan lain selain mengambil tindakan setelah Hizbullah kembali menyerang wilayah Israel pada 2 Maret.
Danon menuding Iran terus menggunakan Hizbullah sebagai kelompok proksi untuk menyerang Israel dari wilayah Lebanon. Ia mengatakan serangan Hizbullah dalam beberapa hari terakhir merupakan yang paling intens sejak gencatan senjata diberlakukan pada April lalu.
"Untuk warga Israel di wilayah utara, tidak pernah ada gencatan senjata yang sesungguhnya karena Hizbullah tidak pernah benar-benar berhenti menembakkan roket dan drone," ujarnya, dikutip dari laman UN.
Danon juga menyebut ribuan siswa Israel masih tidak dapat bersekolah akibat ancaman serangan yang terus berlangsung.
Baca tanpa iklan