Perwakilan Lebanon, Ahmad Arafa, menyampaikan kritik keras terhadap Israel. Ia menuduh Israel memanfaatkan situasi regional yang sedang tegang untuk meningkatkan operasi militer secara berbahaya.
Menurut Arafa, Israel terus melakukan penghancuran sistematis dengan menargetkan rumah sakit, tenaga medis, jurnalis, sekolah, aparat keamanan, pasukan penjaga perdamaian PBB (UNIFIL), tempat ibadah, hingga situs-situs bersejarah yang menjadi bagian dari identitas nasional Lebanon.
Ia menegaskan bahwa sebagian tindakan tersebut dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang dan menilai kurangnya akuntabilitas internasional telah membuat pelanggaran serupa terus berulang. Lebanon mendesak Israel segera berkomitmen pada gencatan senjata agar pemerintah Lebanon dapat memperluas kontrol negara ke seluruh wilayahnya.
Amerika Serikat: Perdamaian Bisa Tercapai Jika Hizbullah Berhenti Menyerang
Perwakilan Amerika Serikat, Michael G. Waltz, menegaskan bahwa jalan menuju perdamaian masih terbuka. Ia memuji upaya diplomasi yang dipimpin Presiden Donald Trump dan menyebut pemerintah Lebanon telah menunjukkan keberanian dalam menghadapi krisis.
Menurut Waltz, konflik dapat segera mereda apabila Hizbullah menghentikan serangannya terhadap Israel. Ia juga menekankan pentingnya pemerintah Lebanon mengambil kendali penuh atas seluruh wilayah negaranya serta menghentikan pengaruh Iran di Lebanon.
"Jika Hizbullah segera menghentikan serangannya seperti yang dijanjikan, maka deeskalasi dan perdamaian akan datang dengan cepat," kata Waltz.
Bahrain Sambut Upaya Gencatan Senjata
Perwakilan Bahrain, Jamal Fares Alrowaiei, menyambut baik laporan mengenai kesepakatan penghentian serangan antara Israel dan Hizbullah yang diumumkan Presiden Donald Trump saat sidang berlangsung.
Menurutnya, langkah tersebut dapat menjadi awal yang positif menuju deeskalasi konflik dan memperkuat stabilitas serta keamanan Lebanon maupun kawasan Timur Tengah secara keseluruhan.
Denmark Ingatkan Bahaya Pelanggaran Kedaulatan
Duta Besar Denmark, Christina Markus Lassen, menegaskan bahwa penghormatan terhadap kedaulatan dan integritas wilayah merupakan fondasi utama tatanan internasional.
Ia memperingatkan bahwa pelanggaran terhadap prinsip-prinsip tersebut dapat memicu dampak berantai yang tidak hanya mengancam Lebanon, tetapi juga stabilitas kawasan dan kredibilitas Dewan Keamanan PBB.
Rusia: Lebanon Mulai Mengalami Nasib Seperti Gaza
Perwakilan Rusia, Vassily Nebenzia, menyampaikan kritik tajam terhadap Israel dan Amerika Serikat. Menurutnya, gencatan senjata yang dimediasi Washington pada April lalu ternyata hanya menjadi "tabir asap" bagi operasi militer Israel di Lebanon.
Nebenzia menilai kondisi di Lebanon mulai menyerupai situasi yang terjadi di Gaza, termasuk penghancuran wilayah dan perpindahan paksa penduduk. Ia memperingatkan bahwa pendudukan lebih lanjut atas wilayah Lebanon dapat memicu perang saudara dan konflik sektarian yang lebih luas.
Rusia juga menuding memburuknya situasi saat ini merupakan dampak langsung dari serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
Prancis: Israel Lakukan Kesalahan Strategis
Duta Besar Prancis, Jérôme Bonnafont, yang mengajukan permintaan sidang darurat tersebut, mengatakan negaranya sangat prihatin terhadap perkembangan situasi di Lebanon.
Meski mengakui hak Israel untuk membela diri, Prancis menilai tidak ada alasan yang dapat membenarkan besarnya skala operasi militer yang sedang berlangsung, termasuk jatuhnya ribuan korban sipil dan perluasan pendudukan wilayah Lebanon.
Baca tanpa iklan