Konflik yang berulang di Laut Cina Selatan, terutama di sekitar Second Thomas Shoal, disebut semakin memperburuk hubungan Beijing dengan Manila. Sementara Vietnam tetap menjadi salah satu pihak yang paling vokal menentang klaim Tiongkok di kawasan tersebut.
Hubungan Jepang dan Tiongkok sendiri juga terus menegang, dipicu sengketa wilayah di Laut Cina Timur serta pernyataan politik yang berkaitan dengan Taiwan.
Sejumlah analis menilai, penguatan koordinasi Jepang dan Filipina dapat memperumit perencanaan militer Tiongkok, terutama terkait akses, logistik, dan skenario evakuasi di sekitar Taiwan.
Meski demikian, para pengamat juga menyoroti bahwa penguatan kerja sama ini tidak semata soal persenjataan, tetapi juga integrasi intelijen dan koordinasi tingkat kawasan yang lebih luas.
Dalam konteks itu, muncul pula pandangan bahwa terbentuknya jaringan keamanan baru ini merupakan bagian dari strategi “diplomasi jaringan” Jepang, yang menghubungkan Filipina dengan Australia, Vietnam, hingga kelompok Quad yang dipimpin Amerika Serikat.
Namun, langkah tersebut juga diperkirakan akan direspons Tiongkok melalui berbagai cara, mulai dari tekanan ekonomi hingga manuver militer terbatas, serta upaya memengaruhi dinamika internal ASEAN.
Baca juga: Skuad Timnas Amerika Serikat di Piala Dunia 2026 Tersusun, Pochettino Panen Cibiran
Di tengah meningkatnya ketidakpastian global, terutama terkait kebijakan Amerika Serikat, negara-negara kawasan disebut mulai memperkuat hubungan pertahanan masing-masing sebagai bentuk antisipasi.
Para analis menilai, dalam jangka panjang, kerja sama Jepang–Filipina–Vietnam ini dapat memperkuat kemampuan pertahanan kawasan, tetapi sekaligus menempatkan Filipina sebagai negara garis depan dalam potensi krisis di Indo-Pasifik. (SCMP)
Baca tanpa iklan