Wang dilaporkan meninggal mendadak pada awal 2024 setelah jatuh dari gedung.
Meski demikian, kebijakan yang diterapkannya disebut tetap berjalan hingga kini.
Ia menilai transformasi perubahan tempat suci menjadi lahan pacuan kuda dirancang agar tampak modern dan meriah.
“Mereka merobohkan. Mereka mengganti. Mereka menimpa. Dan dengan melakukan itu, mereka berharap ingatan akan apa yang hilang akan memudar.”
Menurut Gurung, bagi warga Tibet yang menyaksikan patung-patung mereka disingkirkan dan sekolah-sekolah mereka ditutup, arena balap baru itu bukan simbol kemajuan.
“Itu adalah pengingat bahwa penghancuran budaya dapat terus berlanjut bahkan setelah debu buldoser mereda,” ujarnya.
Baca tanpa iklan