Eks-Kepala Staf Israel: Iran Bertahan dari Tekanan Besar, Kini Pegang Kendali
Ringkasan Berita:
- Mantan Kepala Staf dan Menteri Pertahanan Israel Moshe Ya'alon menilai Iran saat ini berada pada posisi yang lebih menguntungkan dan berhasil bertahan dari tekanan besar.
- Ya'alon meragukan kesepakatan yang diupayakan Presiden AS Donald Trump dengan Iran akan lebih baik dibandingkan kesepakatan era Barack Obama.
- Selain menyoroti isu Iran, Ya'alon juga mengkritik kekerasan yang dilakukan pemukim ekstremis terhadap warga Palestina di Tepi Barat, penegakan hukum di wilayah tersebut tidak berjalan.
TRIBUNNEWS.COM - Mantan Kepala Staf Angkatan Bersenjata Israel sekaligus mantan Menteri Pertahanan Israel, Moshe Ya'alon, menyatakan kalau Iran saat ini berada dalam posisi yang menguntungkan.
Menurutnya, Teheran tidak hanya mampu menunjukkan kekuatan, tetapi juga berhasil bertahan menghadapi tekanan dari kekuatan-kekuatan besar dunia.
Dalam wawancara dengan surat kabar Israel Yediot Aharonot, Ya'alon mengomentari prospek kesepakatan baru antara Amerika Serikat dan Iran.
Ia menilai bahwa situasi saat ini justru memberi keuntungan strategis bagi Iran.
"Pada saat ini, Iran adalah pihak yang berada di posisi terbaik. Sayangnya, mereka tidak hanya tampak kuat, tetapi juga mampu bertahan menghadapi pasukan-pasukan besar," ujar Ya'alon dikutip dari Khbrn, Minggu (14/6/2026).
Ia berpendapat bahwa kondisi tersebut dapat memperkuat posisi pemerintahan Iran, baik dari sisi politik maupun ekonomi.
Menurutnya, apabila Iran kembali memperoleh akses terhadap sumber daya keuangan yang lebih besar, rezim di negara itu berpotensi mengambil langkah yang lebih agresif, termasuk dalam isu pengembangan program nuklir.
Ya'alon mengatakan bahwa Iran dapat saja menyatakan, "Saya akan mengupayakan bom nuklir," seraya membandingkan kemungkinan tersebut dengan pendekatan yang selama ini ditempuh Korea Utara dalam mempertahankan kemampuan nuklirnya.
Baca juga: Jet Tempur Siluman F-35A AS Kirim Kode Darurat 7700 di Dekat Selat Hormuz, Kena Tembak Iran?
Ragukan Kesepakatan Baru AS-Iran
Dalam kesempatan yang sama, Ya'alon juga menyoroti pendekatan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap perundingan dengan Iran. Menurutnya, Trump sangat ingin mencapai sebuah kesepakatan yang dapat dipandang lebih baik dibandingkan kesepakatan nuklir yang dirintis pada masa pemerintahan mantan Presiden Barack Obama.
"Trump sangat ingin mencapai kesepakatan. Pada dasarnya dia ingin menunjukkan bahwa kesepakatannya lebih baik daripada kesepakatan Obama. Saya tidak melihat hal itu," kata Ya'alon.
Pernyataan tersebut mencerminkan pandangan kritis Ya'alon terhadap efektivitas diplomasi yang sedang diupayakan Washington. Ia menilai bahwa hasil dari proses tersebut belum tentu mampu membatasi ambisi strategis Iran secara lebih efektif dibandingkan kesepakatan sebelumnya.
Soroti Kekerasan Pemukim di Tepi Barat
Selain membahas isu Iran, Ya'alon juga mengangkat situasi keamanan di Tepi Barat yang menurutnya semakin mengkhawatirkan. Ia secara khusus menyoroti kekerasan yang dilakukan oleh sebagian pemukim ekstremis terhadap warga Palestina.
Usai melakukan kunjungan ke wilayah yang oleh Israel disebut Yudea dan Samaria tersebut, Ya'alon mengaku menyaksikan kondisi yang sangat memprihatinkan.
Baca tanpa iklan