News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Konverter Solar ke Gas Lebih Efisien

Editor: Anita K Wardhani
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

ALAT EFISIENSI - Rangkaian alat pengembangan bahan bakar gas dan bahan bakar solar yang dilakukan Adi di Medan. Alat ini dibuat untuk efisiensi pemakaian solar.

TRIBUNNEWS.COM - DI atas sehelai kertas, Adi menggambarkan sebuah rangkaian yang terdiri atas beberapa unsur. Seperti tabung gas hijau seberat 3 kilogram lengkap dengan regulatornya, yang dihubungkan ke satu rangkaian manometer air. Sambungan itu melalui slang satu arah (one way valve).

Dari manometer air itu, kemudian disambungkan lagi ke mixer, dan berakhir di mesin diesel merek Cina, Dong Feng, melalui intake manifold. Di dalam mesin inilah terjadi percampuran antara gas dari tabung hijau tadi dengan bahan bakar solar.

Rangkaian itu merupakan pengembangan Adi selama dua tahun ini, sebagai solusi untuk melakukan efisiensi konsumsi mesin yang menggunakan bahan bakar solar. Paling tidak, pria berusia 36 tahun ini mengklaim bisa irit solar 40 persen.

"Kalau mesin diesel, tidak mungkin melakukan konversi sepenuhnya menggunakan bahan bakar gas. Kan tidak ada businya. Solar digunakan untuk pengapiannya saja," katanya ketika ditemui Tribun di Bengkel Bajuri, Jalan Sersan Bajuri, Bandung, Rabu (15/2/2012) siang.

Adi, yang juga sebagai instalatornya, sedang mencoba mengembangkan penemuan itu ke versi digital, yang bentuknya lebih simpel. Namun, tetap menggunakan tabung gas yang biasa digunakan untuk rumah tangga karena gas seperti itu mudah ditemukan di mana saja.

Demi keamanannya, pria yang tinggal di Sarijadi, Kota Bandung, itu mengatakan, untuk sementara tabung gas yang digunakan untuk mobil masih aman. Apalagi bisa diletakkan di bagasi atau tempat yang jauh dari proses pengapian.

"Tabung gas ini bisa didapat di mana saja. Kalau tempat pengisian bahan bakar gas, kan masih jarang. Jadi kalau kehabisan di jalan, masih banyak tempat yang menjual tabung gas rumah tangga. Untuk sementara masih aman diletakkan di bagasi mobil karena tidak ada pengapian," kata Adi.

Pengembangan alat itu sedang dilakukan di Unit Penelitian Perikanan Indonesia (UPPI) di Medan. Selain itu, pengembangan masih dilakukan terhadap mesin kapal, yang juga menggunakan diesel atau bahan bakar solar.

"Alatnya sekarang di Medan. Di sana kalau masalah seperti ini begitu konsentrasi. Nantinya kami berencana membuat versi digitalnya agar lebih simpel untuk digunakan mobil bermesin diesel," ujarnya.

Menurut Adi, pada awalnya pengembangan konversi ini diuji untuk membantu para nelayan. Apalagi di daerah pedalaman harga solar bisa mencapai Rp 6.000 per liter. Di Medan, diuji coba mesin kecepatan idle 1 liter, habis dalam 1 jam 22 menit untuk gas. Sedangkan dengan dual diesel, menjadi 2 jam 45 menit.

Selain itu, agar lebih makin efisien, bisa juga ditambah alat kecil bernama nusa fuel. Alat ini disambungkan di antara karburator dan filter. Bisa digunakan di berbagai jenis danĀ  merek mobil, serta di kendaraan roda dua. Penambahan alat ini pada konverter solar tadi, kata Adi, bisa menambah efisiensi sampai 60 persen. (*)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini