TRIBUNNEWS.COM - Fenomena Blue Moon yang terjadi pada 31 Mei 2026 menarik perhatian masyarakat karena istilahnya sering diasosiasikan dengan Bulan yang berubah warna menjadi biru.
Untuk wilayah Indonesia, puncak purnama pada 31 Mei 2026 terjadi sekitar pukul 15.44 WIB.
Namun, Bulan tetap dapat diamati pada malam hari karena purnama berlangsung dalam rentang waktu yang cukup lama.
"Kalau mau melihat purnamanya, nanti malam bisa. Purnama bisa dilihat cukup lama sepanjang malam, mulai dari Bulan terbit sekitar Matahari terbenam hingga menjelang pagi," ujar Evan Irawan Akbar, Dosen Kelompok Keahlian Astronomi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Teknologi Bandung (FMIPA ITB) yang dikutup dari itb.ac.id, Minggu (31/5/2026).
Ia menegaskan bahwa Blue Moon dapat diamati dengan mata telanjang tanpa alat khusus, karena tampilannya sama seperti purnama pada umumnya.
"Tidak ada tips khusus, karena ini akan tampak seperti purnama biasa dan bisa dilihat dengan mata telanjang," jelasnya.
Evan Irawan Akbar pun menjelaskan bahwa Blue Moon memiliki makna khusus dalam astronomi dan tidak berkaitan dengan perubahan warna Bulan.
Apa Itu Blue Moon?
Blue Moon bukanlah fenomena ketika Bulan tampak berwarna biru.
Istilah ini merujuk pada bulan purnama kedua yang terjadi dalam satu bulan kalender Masehi yang sama.
Pada Mei 2026, purnama pertama terjadi pada 2 Mei, sedangkan purnama kedua terjadi pada 31 Mei 2026.
Baca juga: Fenomena Blue Moon 30 dan 31 Mei 2026, Catat Waktu dan Wilayah yang Bisa Menyaksikan
Peristiwa inilah yang disebut sebagai Blue Moon.
Evan menjelaskan bahwa Blue Moon sebenarnya merupakan peristiwa biasa dalam astronomi.
Fenomena ini terjadi karena periode sinodis Bulan, yaitu rentang waktu dari satu purnama ke purnama berikutnya, berlangsung sekitar 29,5 hari.
Sementara itu, satu bulan dalam kalender Masehi dapat terdiri atas 30 atau 31 hari.
Baca tanpa iklan