Ia kemudian menjelaskan bahwa pemerintah pun saat ini mulai concern pada faktor penyebab langsung sejak Januari lalu.
Meskipun kesadaran terkait pentingnya faktor ini baru muncul beberapa bulan lalu, dirinya mengapresiasi keseriusan pemerintah dalam menangani isu ini.
"Nah pemerintah baru memulai memberikan informasi kepada masyarakat terkait makanan itu sejak bulan Januari 2022. Jadi, lebih perhatian kepada makanan itu baru dimulai, dan saya rasa itu suatu hal yang baik, untuk kita saat ini mulai fokus lah pada pemberian asupan makan kepada anak," tegas Prof Fika.
Lalu apakah protein hewani memiliki peranan penting dalam mencegah stunting?
Prof Fika menekankan bahwa jenis protein memang terbagi dua, yakni protein nabati dan protein hewani.
Namun keduanya memilik kualitas yang tentu saja berbeda.
Dalam proses tumbuh kembangnya, anak tentunya membutuhkan asam amino esensial yang lengkap agar dapat memenuhi kebutuhan pada masa 1.000 HPK.
Asam amino lengkap ini pun dapat diperoleh dari protein hewani.
"Untuk pertumbuhan itu, dibutuhkan asam amino esensial yang lebih lengkap, dibandingkan dengan yang bukan untuk pertumbuhan. Otomatis untuk mendapatkan asam amino esensial yang lengkap, itu bisa kita dapatkan dari protein hewani," tutur Prof Fika.
Oleh karena itu, para orang tua harus berkomitmen untuk selalu memberikan makanan yang mengandung protein hewani, agar tumbuh kembang anak dapat berlangsung secara optimal.
"Nah, jadi kalau kita punya target untuk menurunkan stunting, otomatis kita tidak bisa lepas dari mencoba memberikan kepada anak kita semaksimal mungkin, seoptimal mungkin makanan yang mengandung protein hewani. Sehingga asam amino esensial yang didapatkan oleh anak itu lengkap," tegas Prof Fika.
Ia pun menambahkan, ada cukup banyak studi yang menunjukkan bahwa kekurangan asam amino esensial berpotensi mengurangi laju pertumbuhan anak.
Lalu protein hewani apa saja yang mengandung asam amino esensial ?
Prof Fika menyebutkan bahwa ada banyak sumber pangan yang mengandung protein hewani, mulai dari daging merah, daging ayam hingga ikan.
"Jadi, berdasarkan studi menunjukkan bahwa untuk mendapatkan asam amino yang lengkap itu bisa didapatkan dari protein hewani tidak hanya satu jenis, tapi berbagai macam. Misalnya daging ayam, sapi, kambing, kemudian ikan, telur, itu juga harus didapat, supaya semuanya saling melengkapi," pungkas Prof Fika.
Hal yang sama pun turut disampaikan Ahli Gizi Masyarakat, Dr. dr. Tan Shoy Yen, M.Hum., yang mengatakan bahwa protein hewani memiliki peranan penting dalam memenuhi kebutuhan tumbuh kembang anak pada periode emasnya.
"Protein hewani kaya dengan zat besi dan asam amino lengkap yang memenuhi kebutuhan anak untuk bisa tumbuh kembang, khususnya di 1.000 HPK," jelas Dr. Tan, saat dihubungi Tribunnews, Rabu (7/9/2022).
Hal itu karena selain mengandung asam amino lengkap, zat besi yang terkandung dalam protein hewani pun berasal dari hemoglobin hewani (HEME), sehingga lebih mudah diserap tubuh jika dibandingkan dengan protein nabati.
"Zat besinya bersifat HEME, artinya bioavailability-nya tinggi, mudah diserap tubuh, semua (protein hewani) yang terdapat secara lokal (ada pada) hati ayam, telur, ikan," kata Dr. Tan.
Dr. Tan kemudian menyebutkan nutrien esensial yang sangat dibutuhkan tubuh anak pada masa tumbuh kembangnya.
"Makronutrien itu karbo (karbobidrat), protein, lemak. Dan mikronutrien itu vitamin, mineral, itu esensial pada anak yang sedang tumbuh kembang. Kekurangan zat besi membuat bayi anemia dan tumbuh kembangnya terganggu, serta nafsu makannya buruk," tegas Dr. Tan.
Lalu bagaimana peran para orang tua dalam mencegah anaknya agar tidak mengalami stunting?
Menurut Prof Fika, memberikan literasi gizi saat ini sangat penting bagi para orang tua, karena jika mereka tidak memiliki literasi yang baik, maka informasi apapun yang diberikan mengenai stunting tidak akan mudah mereka pahami.
Selain memperhatikan asupan makanan pada periode emasnya, para orang tua harus memperhatikan pula saat anak mereka mulai memasuki usia remaja.
Terutama jika mereka memiliki anak perempuan, tentunya gizi seimbangnya harus terpenuhi.
Hal itu karena remaja perempuan ini nantinya akan tumbuh menjadi wanita dewasa dan memiliki keturunan.
"Jadi kita harus memperhatikan memang, stunting itu penyebabnya di 1.000 hari pertama (kelahiran), dan sebelum 1.000 hari. Jadi di remaja, otomatis kalau kita memiliki anak remaja, terutama perempuan, penuhi zat gizinya, terutama untuk Fe (zat besi)," kata Prof Fika.
Sementara itu pada kondisi ibu hamil, harus disadari pula pentingnya mengkonsumsi makanan yang mengandung gizi seimbang dan memiliki berat badan yang cukup pada masa kehamilan ini.
Hal ini penting agar bayinya tidak terlahir dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR).
"Nah kemudian pada saat hamil, dalam kondisi status gizi yang baik, biasanya berat badannya itu cukup ya, jadi memadai. Ibunya tidak terlalu kurang gizi, kemudian pada saat hamil dipenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Ada kenaikan berat badan yang harus direkomendasikan, berapa harus dicapai, sehingga nanti bayinya akan lahir tidak BBLR, jadi cukup berat badannya," jelas Prof Fika.
Saat sudah melahirkan pun, sang ibu harus memiliki cadangan lemak yang cukup untuk bisa memberikan Air Susu Ibu (ASI) secara eksklusif selama 6 bulan.
Oleh karena itu, penting untuk mengkonsumsi makanan dengan gizi seimbang untuk memenuhi cadangan lemak ini agar ASI yang diberikan pada bayi pun berkualitas.
"Nah kita tahu bahwa pemberian ASI yang paling baik itu adalah memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan, tapi memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan itu harus didukung dengan gizi ibu menyusui yang baik. Karena nggak mungkin dapat menyusui kalau gizi ibunya kurang baik, bagaimana memberikan bayinya asupan ASI yang berkualitas," papar Prof Fika.
Saat bayi telah berusia 6 bulan, maka ibu bisa memberikan makanan pendamping ASI (MPASI), namun olahan makanan untuk MPASI ini pun harus sangat diperhatikan.
MPASI yang baik adalah makanan yang dapat memenuhi kebutuhan tumbuh kembangnya.
Prof Fika pun menyarankan agar para ibu mengolah MPASI dengan memilih sumber pangan yang mengandung protein hewani, seperti daging merah, daging ayam, telur, ikan.
"Nah selesai memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan, setelah itu dia harus diberikan MPASI yang memadai, jadi artinya cukup, kualitasnya juga baik, nah itu yang harus sangat diperhatikan. Dan juga ibunya harus tahu kalau memberikan makanan itu terutama untuk pertumbuhan adalah protein, dan protein itu adalah protein hewani," tutur Prof Fika.
Terkait pemahaman mengenai pemenuhan gizi seimbang bagi ibu menyusui dan anak, Annisa (26), seorang ibu yang baru saja memiliki bayi berusia 2 tahun, mengaku bahwa sejak anaknya masih berada dalam kandungan, dirinya selalu mengkonsumsi makanan yang mengandung protein hewani, seperti telur, susu, daging hingga ikan.
Hal itu karena ia memahami apa yang dikonsumsi selama masa kehamilan, tentu akan berpengaruh pula pada pertumbuhan bayinya.
Karena saat masih dalam kandungan, bayi yang dikandungnya akan mengambil nutrisi dari asupan makanan yang dikonsumsi ibunya.
Sehingga Annisa pun berkomitmen untuk terus mengkonsumsi makanan yang mengandung gizi seimbang dan kaya protein hewani pada 9 bulan masa kehamilannya.
"Aku itu sejak awal hamil sudah komitmen untuk selalu menjaga asupan makananku, harus mengandung protein hewani, karena nutrisinya akan didapatkan bayiku (dalam kandungan)," kata Annisa kepada Tribunnews.
Setelah bayi laki-lakinya lahir, Annisa tetap mengkonsumsi protein hewani karena ia memutuskan untuk memberikan Air Susu Ibu (ASI) secara eksklusif pada anaknya.
"Setelah melahirkan, aku tetap pegang komitmen aku untuk terus mengkonsumsi daging, telur, ikan, udang, ini demi menunjang kebutuhan asam amino esensial lengkap yang diperlukan bayiku saat menyusui eksklusif ASI ya," tegas Annisa.
Meskipun dirinya merupakan seorang ibu muda, pengetahuannya terhadap kebutuhan anaknya pun tergolong cukup banyak.
Ia berupaya meningkatkan literasi mengenai peran ibu sejak masa kehamilan hingga masa periode emas anak.
Selain memberikan ASI eksklusif sambil terus mengkonsumsi protein hewani, ia juga memberikan MPASI untuk anaknya dengan sumber pangan serupa.
Annisa menegaskan bahwa dirinya tidak ingin pertumbuhan anaknya mengalami hambatan atau gangguan pada masa periode emas.
"Anak aku itu sejak usia 6 bulan mulai aku berikan MPASI, itu makanannya aku olah sendiri, biasanya pakai ikan, ayam, telur, terkadang pakai udang juga, sambil aku tambah sedikit protein nabati juga seperti sayuran," jelas Annisa.
Nah, untuk memutus mata rantai stunting ini, berbagai pihak pun kini semakin berkomitmen untuk turut mengambil peranan dan mendukung pemerintah, termasuk sektor swasta.
Hal inilah yang ditunjukkan PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JAPFA) dalam mendorong pengimplementasian tindakan untuk mencegah stunting pada anak-anak Indonesia demi 'Penuhi Asupan Protein Hewani, Sambut Generasi Bebas Stunting'.
Direktur Corporate Affairs JAPFA, Rachmat Indrajaya mengatakan bahwa pihaknya selalu berkomitmen untuk mendukung langkah pemerintah dalam upaya menurunkan angka stunting.
Karena anak-anak merupakan generasi penerus bangsa yang akan tumbuh menjadi SDM Unggul di masa depan.
"Kami berkomitmen untuk tidak hanya fokus ada aspek ekonomi saja, melainkan juga pada aspek sosial dan lingkungan yang membuat perusahaan dapat berjalan seimbang," kata Rachmat.
Ia juga menegaskan bahwa pihaknya berupaya memberikan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat terkait pentingnya mengkonsumsi makanan yang mengandung gizi seimbang serta protein hewani.
JAPFA pun memiliki produk yang mengandung protein hewani seperti daging sapi wagyu, daging ayam, hingga produk olahan seafood.
Nah, para orang tua bisa mengajak anak untuk mengkonsumsi makanan yang mengandung protein hewani agar terbebas dari stunting.
Baca tanpa iklan