1. Skoliosis Bawaan
Pada skoliosis kongenital, kelengkungan tulang belakang terjadi karena kelainan bentuk tulang belakang.
Diagnosis skoliosis kongenital dapat ditegakkan pada awal masa bayi jika terdapat tanda-tanda lahiriah, namun banyak kasus yang didiagnosis kemudian pada masa kanak-kanak.
Seiring pertumbuhan seorang anak, skoliosis dapat memburuk, dan ketidakseimbangan dalam tubuh dapat terjadi.
Biasanya, skoliosis kongenital ditangani dengan pendekatan “perhatikan dan tunggu”.
Pembedahan dipertimbangkan hanya jika kurvanya jelas-jelas semakin memburuk dan anak menghadapi kelainan bentuk yang berkelanjutan serta risiko nyeri di kemudian hari.
2. Skoliosis Idiopatik
Dokter, perawat, dan ilmuwan telah mempelajari sejarah alami dan genetika skoliosis selama beberapa dekade.
Namun hingga saat ini, penyebab skoliosis idiopatik masih belum diketahui.
Seperti diketahui, bahwa waktu paling umum terjadinya skoliosis idiopatik adalah pada masa remaja, atau sekitar usia 10 tahun.
Pertumbuhan dapat memperburuk keadaan, dan kita harus sangat waspada terhadap skoliosis pada anak yang menderita skoliosis idiopatik.
Jika didiagnosis pada anak berusia 2 tahun ke bawah, jenis skoliosis ini disebut skoliosis idiopatik infantil.
3. Skoliosis Neuromuskular
Seorang anak yang memiliki penyakit neuromuskular memiliki risiko lebih tinggi terkena skoliosis.
Tulang belakang yang lurus membutuhkan keseimbangan dan kekuatan otot yang normal pada batang tubuh.
Baca tanpa iklan