News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Dua Kebiasaan Ini Bisa Tingkatkan Anak Terkena Rabun Jauh

Penulis: Rina Ayu Panca Rini
Editor: Anita K Wardhani
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

RABUN JAUH - Miopia atau rabun jauh pada anak harus segera ditangani. Ini 2 kebiasaan yang jadi penyebab.

Laporan wartawan Tribunnews.com, Rina Ayu

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Miopia atau rabun jauh pada anak harus segera ditangani agar tidak terlampau tinggi.

Percepatan pertambahan minus sangat dipengaruhi oleh gaya hidup dan faktor genetik.

Baca juga: Memahami Efek Penggunaan Gadget terhadap Kesehatan Mata Anak, Banyak yang Rabun Jauh di Usia Muda

Ketua Contact Lens Service di JEC Eye Hospitals and Clinics DR. Dr. Tri Rahayu, SpM(K) menuturkan kebiasaan sehari-hari bisa menjadi faktor anak terkena rabun jauh. 

Kebiasaan yang dimaksud adalah 

  1. - Kurangnya paparan sinar matahari alami
  2. - Banyak berada di dalam ruangan 

Selain dua kebiasaan itu, riwayat keluarga dengan miopia merupakan faktor risiko utama rabun jauh.

“Pascapandemi, ada peningkatan tajam jumlah anak dengan miopia, terutama karena perubahan pola aktivitas harian yang lebih sedentari dan didominasi layar digital,” jelasnya.

Orang tua perlu mengetahui bahwa miopia bukan hanya soal penglihatan kabur.

Gangguan penglihatan ini bisa memengaruhi prestasi belajar dan kesehatan mental.

Baca juga: Kisah David de Gea, Kiper MU yang Punya Riwayat Rabun Jauh hingga Disuruh Ferguson Operasi

Anak-anak dan remaja yang sering bermain di luar rumah atau ruangan bisa menurunkan angka kejadian rabun jauh.

Hal ini dikarenakan anak akan memandang ruang yang luas sehingga terlatih melihat fokus penglihatan yang jauh.

Aktivitas di luar ruang (outdoor activities) akan dapat menjadi faktor pelindung terjadinya miopia pada anak.

Miopia yang tidak ditangani sejak dini dapat berkembang menjadi high myopia (lebih dari -6.00 dioptri), yang berisiko menyebabkan komplikasi serius seperti glaukoma, ablasi retina, dan dioptri), yang berisiko menyebabkan komplikasi serius seperti glaukoma, ablasi retina, dan katarak dini.

Oleh karena itu, strategi promotif dan preventif seperti skrining dini dan peningkatan akses terhadap layanan mata menjadi sangat krusial.

"Miopia bukan sekadar kondisi mata yang memerlukan kacamata. Ini adalah kondisi progresif yang harus ditangani sejak awal agar tidak berkembang menjadi miopia tinggi dengan risiko komplikasi serius. Seperti dengan terapi terapi Orthokeratology (Ortho-K),” tutur dr Tri Rahayu.

Halaman
12
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini