TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kementerian Kesehatan (Kemenkes RI) dan Kementerian Kerja Sama Ekonomi Federal Jerman (BMZ) serta didukung dengan Kedutaan Besar Jerman di Jakarta meluncurkan Program ACTIVE 2.0 (Enhancing Cervical Cancer Treatment & Patient Recovery Across Southeast Asia).
Nantinya ada empat rumah sakit rujukan nasional menjadi pusat pelatihan penanganan, pengembangan infrastruktur, dan penyedia dukungan pemulihan pasien kanker serviks.
Program ini bertujuan untuk meningkatkan hasil perawatan pasien, dan memperkuat sistem layanan kanker secara nasional.
Empat rumah sakit tersebut adalah RS Kanker Dharmais, RS Cipto Mangunkusumo, RS Sardjito DIY, dan RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang, ditunjuk sebagai pusat pelatihan kanker serviks.
Sebagai pusat pelatihan, keempat rumah sakit tersebut akan menyediakan pelatihan bagi rumah sakit yang berada di wilayah sekitarnya.
Selain itu, juga akan membangun pusat pelatihan dengan peralatan yang mumpuni untuk meningkatkan kapabilitas tenaga kesehatan dalam penanganan kanker.
Kanker serviks masih menjadi salah satu tantangan kesehatan terbesar di Indonesia.Setiap tahun, terdapat sekitar 36.0001 kasus baru dengan prevalensi 23 kasus per 100.000 perempuan.
Baca juga: Kanker Serviks Masih Jadi Ancaman Serius, Deteksi Dini dengan Pap Smear Jadi Kunci Pencegahan
Direktur Pelayanan Klinis Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Dr. Obrin Parulian, M.Kes, dalam sambutannya mengatakan, pihaknya menyambut baik kerja sama ini untuk memperkuat layanan kanker di dalam negeri.
"Kolaborasi ini sejalan dengan Transformasi Kesehatan khususnya untuk pelayanan onkologi sekaligus meningkatkan kapasitas tenaga medis di berbagai rumah sakit nasional," kata Obrin saat sambutan dalam kegiatan di Anaya Midplaza, Karet Kuningan, Jakarta Pusat, Rabu (24/9/2025).
Di kesempatan yang sama hadir juga Direktur Utama (Dirut) RS Kanker Dharmais adalah dr. R. Soeko W. Nindito.
Pihaknya menyambut antusias kehadiran program ini agar update skill dan ilmu pengetahuan dari para ahli dari Jerman dan juga negara-negara lain.
Pelatihan ini juga membantu RS Dharmias untuk lebih mengoptimalkan penggunaan alat untuk penanganan kanker serviks.
"Mudah-mudahan kedepannya dalam penanganan kanker serviks di Indonesia bisa lebih baik lagi khususnya dalam pemanfaatan penggunaan alat berarti terapi. Sekali lagi saya mengucapkan terima kasih sudah membantu Untuk meningkatkan kapasitas dokter dan nakes di Indonesia," tutur dr. Soeko.
Head of Cooperation with the Private Sector, BMZ, Mr Benjamin Knödler menambahkan, pihaknya bangga dapat berkontribusi dalam kemitraan jangka panjang dan kegiatan knowledge sharing ini untuk memperkuat layanan kesehatan di Indonesia.
Baca juga: Ribuan Perempuan Meninggal Akibat Kanker Serviks, Revaksinasi HPV Jadi Kunci
"Program ini menjadi contoh kolaborasi dalam membangun layanan kanker yang tangguh dan berkualitas dapat dilakukan di seluruh kawasan Asia Tenggara," tutur dia.
Baca tanpa iklan