News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Program Makan Bergizi Gratis

Polemik MBG, Ketika Burger & Spaghetti Masuk Daftar Menu, Pangan Segar Indonesia Terpinggirkan

Penulis: Aisyah Nursyamsi
Editor: Anita K Wardhani
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

ILUSTRASI - Foto ilustrasi seorang anak Sekolah Dasar (SD) memakan burger dibuat menggunakan artificial intelligence (AI) Gemini Google, Selasa (5/8/2025). Anggota Komisi IX DPR RI, Netty Prasetiyani Aher merespons adanya permintaan burger untuk menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari seorang siswa SMP beberapa waktu lalu. (Generated by AI/Gemini)

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Menu Makan Bergizi Gratis (MBG) belakangan menuai polemik. 

Harapan masyarakat untuk melihat anak-anak menikmati nasi, lauk segar, sayur, dan buah lokal ternyata faktanya berbeda. 

Baca juga: Review MBG, Ketika Rakyat Ikut Mengawal Janji Politik Makan Bergizi Gratis

Pada kenyataannya, burger, mie instan, sosis, hingga spaghetti kemasan masuk dalam daftar menu.

Kondisi ini memantik keprihatinan Dr Tan Shot Yen, dokter sekaligus pakar gizi masyarakat. 

Dilansir dari kanal YouTube Kompas, ia menegaskan bahwa pemberian makanan ultra proses (Ultra Processed Food/UPF) dalam program sebesar MBG sama sekali tidak masuk akal.

Mengingat Indonesia kaya dengan sumber pangan segar dan beragam.

Pangan Lokal vs Pangan Kemasan

"Susu itu adalah hanya sekedar bagian dari protein hewan yang gak perlu-perlu banget juga, karena kita punya telur, daging ayam, ikan, sapi, bahkan termasuk daging babi di daerah yang non-Muslim. Jadi keragaman pangan itu menjadi kekayaan kita, menjadi suatu rasa pangan nasional, ini penting sekali,” ujar Dr Tan.

Menurutnya, penekanan pada UPF justru melemahkan nilai edukasi gizi yang semestinya dibawa MBG. 

Makanan kemasan ok1 (net)

Anak-anak yang terbiasa diberi makanan kemasan bisa keliru memahami konsep gizi seimbang. 

Mereka mungkin menganggap burger instan adalah makanan sehat hanya karena disajikan di sekolah.

Padahal, sejak 2014 Kementerian Kesehatan sudah menekankan perubahan paradigma dari konsep “4 sehat 5 sempurna” menjadi “gizi seimbang”. 

Dalam konteks itu, susu bukanlah menu wajib, melainkan sekadar salah satu sumber protein di antara banyak pilihan lain yang lebih terjangkau dan kaya nutrisi.

Masalah UPF Bukan Hanya Impor

Pekerja memeriksa produk frozen food.

Dr Tan juga menyinggung bahwa masalah UPF bukan hanya produk impor, melainkan juga produk lokal. 

Banyak makanan kemasan Indonesia ditolak di negara lain karena tidak memenuhi standar keamanan pangan internasional.

Halaman
12
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini