TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Cemaran mikroplastik di udara Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi) turut jadi perhatian serius dokter spesialis paru (Pulmonologi dan Respirasi)Prof. Dr. dr. Agus Dwi Susanto, Sp.P(K), FISR, FAPSR.
Mikroplastik yang berukuran sangat kecil bisa terhirup dan masuk ke saluran pernapasan.
Baca juga: Riset BRIN: Air Hujan di Jakarta Mengandung Mikroplastik, Ahli Ingatkan Bahaya Kesehatan
“Mikroplastik merupakan partikel-partikel plastik halus hasil degradasi plastik dengan ukuran 1 milimeter sampai dengan 5 milimeter,” tutur Prof Agus kepada awak media di Jakarta, Kamis (24/10/2025).
Ia menerangkan, mikroplastik berasal dari dua sumber.
Pertama, mikroplastik primer yang memang dibuat sangat kecil seperti pada produk perawatan diri, detergen, insektisida.
Baca juga: Mengandung Mikroplastik! Jangan Sembarangan Manfaatkan Air Hujan di Jakarta, Ikuti Cara Aman Ini
Kedua, mikroplastik sekunder berasal dari botol plastik, kantong plastik, penyimpanan makanan dan lain-lain.
Mikroplastik dapat terbawa di udara, mengalami pengendapan kering dan basah di permukaan bumi.
Mikroplastik ada di air, menempel di sayuran, makanan dan masuk tubuh secara tertelan.
“Jika mikroplastik ada di udara permukaan maka dapat terhirup masuk tubuh lewat saluran napas dan masuk ke paru,” ungkap Ketua Umum Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) 2017-2024.
Ia menerangkan, mikroplastik di udara yang terhirup untuk ukuran di atas 5 milimeter umumnya hanya sampai saluran napas atas.
Efeknya menyebabkan iritasi di hidung dan saluran napas atas menimbulkan keluhan hidung berair, gatal-gatal di hidung, sakit tenggorokan hingga batuk.
Sementara, mikroplastik dengan ukuran 0,5 milimeter sampai dengan 5 milimeter bisa sampai saluran napas bawah dan alveoli paru.
Efeknya bisa menimbulkan iritasi dan peradangan saluran napas bawah dan paru sehingga timbul gejala batuk-batuk, berdahak, sesak napas.
Baca tanpa iklan