News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Muncul Kasus Pertama H5N5 pada Manusia di AS, Bagaimana Risiko di Indonesia?

Penulis: Aisyah Nursyamsi
Editor: Febri Prasetyo
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

PAKAR EPIDEMIOLOGI - Ahli epidemiologi Indonesia dan peneliti pandemi dari Griffith University, Dicky Budiman.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Dunia kesehatan kembali mendapat sinyal kewaspadaan setelah otoritas kesehatan Amerika Serikat (AS) melaporkan kasus pertama infeksi manusia oleh virus influenza burung H5N5.

Kasus ini dialami seorang pria lanjut usia dari Grays Harbor County, Washington. Ia kini dirawat dalam kondisi sakit parah. 

Temuan tersebut langsung menjadi perhatian global, termasuk Indonesia, mengingat H5N5 belum pernah terdeteksi pada manusia sebelumnya.

Ahli epidemiologi dan peneliti di Global Health Security, Dicky Budiman, menjelaskan bahwa kasus ini penting dicermati meski belum menunjukkan potensi pandemi.

“Ini adalah situasi yang serius tapi tidak potensi pandemi, belum ya menjadi potensi pandemi tapi harus disikapi serius,” kata Dicky dalam keterangannya, Rabu (19/11/2025). 

Kasus ini telah dikonfirmasi oleh Kementerian Kesehatan setempat sebagai infeksi manusia pertama dengan subtipe H5N5 di dunia. 

Hingga kini penyelidikan menunjukkan bahwa tidak ada bukti penularan antarmanusia.

Risiko Dinilai Rendah, tetapi Kewaspadaan Harus Tinggi

Meski kasus masih tunggal, peluang mutasi virus tetap menjadi perhatian para ahli. 

Ketika virus avian influenza melompat ke manusia, virus berpotensi “belajar” dan beradaptasi pada inang baru.

“Setiap kali avian influenza subtipe baru melompat ke manusia termasuk H5N5 ini, maka virus itu berarti mendapat kesempatan bereksperimen dalam inang manusia, meningkatkan peluang akumulasi mutasi,” ujar Dicky.

Baca juga: Ahli Ingatkan Pentingnya Vaksinasi Influenza Rutin untuk Lindungi Anak dan Kelompok Rentan

Skenario tersebut menjadi dasar mengapa kasus ini harus ditanggapi dengan kewaspadaan penuh, meski belum menunjukkan pola penularan yang mengarah pada wabah.

Pelacakan kontak dan pemantauan terhadap orang-orang yang berinteraksi dengan pasien terus dilakukan oleh otoritas kesehatan AS. 

Hingga saat ini tidak ditemukan gejala atau kluster baru pada kontak dekat.

Berdasarkan analisis awal jejaring pendeteksian global, dugaan terbesar adalah paparan dari unggas domestik atau burung liar di sekitar lokasi pasien. 

Halaman
123
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini