News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Fenomena Gen Z dan Alpha Curhat ke AI, Apa Bahayanya?

Penulis: Rina Ayu Panca Rini
Editor: Glery Lazuardi
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

ILUSTRASI AI -Ilustrasi artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan yang diunduh dari laman freepik.com, Rabu (4/6/2025). Remaja Gen Z dan Alpha makin sering curhat ke AI, psikiater peringatkan risiko kesehatan mental.

TRIBUNNEWS.COM - Fenomena generasi muda Gen Z dan Alpha yang semakin sering menjadikan kecerdasan buatan (AI) sebagai tempat curhat kini memicu perhatian serius.

Orang bisa curhat ke AI karena AI menyediakan ruang aman, selalu tersedia, dan tidak menghakimi, meski pakar menegaskan ada risiko psikologis bila dijadikan pengganti manusia.

AI sudah terintegrasi dalam aplikasi sehari-hari, sehingga curhat menjadi bagian dari interaksi digital rutin.

AI bisa diakses kapan saja, tanpa batas waktu, berbeda dengan manusia yang punya keterbatasan.

Banyak anak muda merasa lebih nyaman berbagi ke chatbot karena AI tidak memberi stigma atau penilaian negatif.

Remaja sering bertanya ke AI tentang kepribadian, kondisi mental, atau sekadar mencari validasi diri.

Apa Bahaya Curhat ke AI?

Psikiater FKUI-RSCM, dr. Kristiana Siste mengungkapkan, kekhawatiran terkait fenomena gen Z dan gen Alpha yang sering menggunakan kecerdasan artifisial (AI) sebagai tempat curhat.

Gen Z adalah mereka yang lahir pada 1997 sampai 2012. Sementara Gen Alpha adalah generasi yang diisi mereka yang lahir antara 2013 sampai 2024.

Menurut dr Kristina, fenomena tersebut berdampak pada praktik self-diagnosis yang berujung menyesatkan karena AI tidak selalu mampu membaca gejala dengan benar.

Saat ini, tren anak muda menggunakan AI untuk menilai kondisi kesehatan mental semakin meningkat.

“Banyak remaja dan dewasa muda kini bergantung pada chatbot untuk mencari tahu kepribadian hingga dugaan depresi. AI ini kan seringkali digunakan oleh gen Z dan gen Alpha untuk menanyakan ‘Aku kepribadiannya apa? Introvert atau extrovert? Aku depresi nggak sih?’” ujarnya dalam kegiatan di Jakarta, baru-baru ini.

AI dijadikan  tempat bercerita saat anak muda merasa kesepian.

Kurangnya komunikasi dalam keluarga membuat sebagian anak muda lebih nyaman berbagi keluhan kepada chatbot dibanding orang terdekat.

Meski tak selalu buruk, AI dapat membantu sebagai alat screening awal, termasuk untuk mendeteksi kecanduan internet, game, dan judi online. Namun, sering keliru atau berlebihan sehingga tidak boleh dijadikan dasar diagnosis.

“Banyak yang melakukan self-treatment tanpa konsultasi dokter — sebuah praktik yang dinilai berbahaya dan berpotensi memperburuk kondisi kesehatan mental,” tegas dia.

Halaman
12
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini