Selain itu, ketergantungan berlebih pada AI dapat membuat anak muda menarik diri dari lingkungan sosial karena merasa lebih dipahami oleh chatbot.
Dr. Siste menegaskan AI harus digunakan secara bijak sebagai pendukung, bukan pengganti tenaga profesional. Pendampingan orang tua diperlukan agar penggunaan teknologi ini tidak menggeser komunikasi di rumah.
Self-diagnosis atau mendiagnosis kondisi kesehatan diri sendiri tanpa bantuan tenaga medis profesional memiliki berbagai risiko serius, baik untuk kesehatan fisik maupun mental.
Self-diagnosis bisa membuat kesalahan diagnosis (misdiagnosis) dan penanganan yang tidak tepat, yang dapat memperburuk kondisi kesehatan seseorang.
Dari sisi pemerintah, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno memberi peringatan serius tentang meningkatnya masalah kesehatan mental di Indonesia.
Ia menyampaikan, Presiden Prabowo memberi perhatian besar pada sektor kesehatan, terutama melalui program pemeriksaan kesehatan gratis, pembangunan rumah sakit, dan beasiswa dokter spesialis.
Pratikno menekankan, kesehatan mental merupakan isu nasional yang memerlukan kerja bersama lintas sektor. Ia meminta seluruh pemangku kepentingan berfokus memperbaiki ekosistem sosial anak sebagai langkah pencegahan.
“Ini kesehatan kita tangani secara komprehensif bahwa presiden sudah jelas memprioritaskan itu,” tegasnya.
BERITA TERKAIT
Baca juga: Mahasiswa Kian Mudah Akses Teknologi untuk Kembangkan Diri Berkat Kolaborasi Telkomsel x Platform AI
Baca juga: Pluang Dorong Kecepatan Analisis Pasar Lewat Teknologi AI
Baca juga: Dorong Transisi Energi, PLN dan Huawei Kembangkan Pembangkit Berbasis AI
Baca tanpa iklan