News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Stres Jangan Dianggap Sepele, Dampaknya pada Lambung hingga Penyakit Serius

Penulis: Aisyah Nursyamsi
Editor: Willem Jonata
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

ILUSTRASI STRES - Tangkapan layar dari laman Freepik pada Rabu (4/6/2025) yang menampilkan gambar ilustrasi orang yang sedang stres.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Stres kerap dipandang sebagai masalah psikologis semata. Padahal, dampaknya dapat meluas hingga memengaruhi organ tubuh, khususnya sistem pencernaan, serta berperan dalam memperberat penyakit serius.

Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, Sp.PD-KGEH., MMB, menegaskan bahwa stres memiliki konsekuensi biologis yang nyata dan tidak dapat dianggap ringan.

“Bahwa stres itu tidak boleh dianggap sederhana,” ujar Prof. Ari yang juga merupakan konsultan penyakit lambung dan pencernaan itu saat ditemui di suatu diskusi kesehatan Jakarta, Senin (19/12/2025). 

Baca juga: Faktor Genetik, Stres hingga Perubahan Hormon Picu Kerontokan Rambut

Ia menjelaskan, dalam tubuh manusia terdapat mekanisme yang dikenal sebagai brain-gut axis, yakni hubungan dua arah antara otak dan saluran pencernaan. 

Ketika kondisi psikologis terganggu, dampaknya dapat langsung dirasakan oleh organ pencernaan.

“Artinya kalau enggak beres, brain kita ini akan mengganggu usus kita,” kata Prof. Ari.

Dalam kondisi stres, kecemasan, atau tekanan emosional yang berlangsung terus-menerus, otak dapat memicu peningkatan produksi asam lambung. 

Akibatnya, muncul keluhan seperti nyeri ulu hati, perih, mual, hingga kekambuhan gangguan lambung yang sebelumnya terkontrol.

Tidak hanya lambung, stres juga berpengaruh pada kondisi usus. 

Usus yang sebelumnya stabil dapat mengalami peradangan kembali ketika seseorang berada dalam tekanan psikologis berkepanjangan. 

Kondisi ini menjelaskan mengapa sebagian gangguan pencernaan sering kali berulang tanpa pemicu makanan yang jelas.

Secara ilmiah, stres juga diketahui berperan dalam meningkatkan proses peradangan di dalam tubuh. 

Faktor-faktor stres yang diproses di otak dapat memengaruhi respons imun dan inflamasi sistemik.

“Karena memang sudah terbukti, ada hubungan dengan faktor-faktor stres itu di otak, itu akan menyebabkan proses radangan jadi meningkat,” jelas Prof. Ari.

Halaman
12
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini