Pada kanker lambung dan kanker gastroesophageal junction stadium awal hingga stadium lanjut lokal, kombinasi imunoterapi dan kemoterapi terbukti memberikan peningkatan signifikan pada kelangsungan hidup secara keseluruhan (overall survival) dan waktu kejadian kekambuhan (event-free survival).
Peningkatan hasil ini juga terlihat pada pasien Asia yang umumnya memiliki kondisi penyakit lebih kompleks.
Sementara itu, pada kanker hati stadium lanjut—terutama di negara-negara dengan prevalensi hepatitis B yang tinggi—regimen kombinasi imunoterapi menunjukkan peningkatan kelangsungan hidup yang bertahan hingga lima tahun.
Temuan ini menjadikannya pilihan terapi yang menjanjikan bagi kelompok pasien tersebut.
Temuan-temuan ini menegaskan pentingnya peningkatan kemampuan diagnostik dan alur rujukan antardisiplin, agar lebih banyak pasien dapat memperoleh akses dan merasakan manfaat dari terapi inovatif yang paling tepat bagi kondisi mereka.
Meningkatkan Peran Antibody Drug Conjugates dalam Penanganan Kanker Payudara Kanker payudara merupakan kanker yang paling banyak didiagnosis pada perempuan dan menjadi salah satu penyebab utama kematian terkait kanker di seluruh dunia.
Di banyak negara Asia, kanker sering terdiagnosis pada usia 40–50 tahun, lebih muda dibandingkan negara Barat yang umumnya pada usia 60–70 tahun.
Perbedaan ini menunjukkan bahwa profil penyakit di Asia cenderung lebih kompleks.
Selain itu, temuan studi yang presentasikan pada ESMO Asia 2025 semakin memperkuat bukti terkait dalam penanganan kanker payudara.
Pada pasien kanker payudara metastatik triple-negative yang tidak memenuhi syarat untuk imunoterapi, penggunaan terapi ADC meningkatkan harapan hidup dan mengendalikan perkembangan penyakit dengan efek samping yang dapat ditoleransi.
Pada penyakit metastatik HER2-positif, kombinasi ADC dengan terapi target antibodi monoklonal menunjukkan manfaat besar dalam memperlambat progresi penyakit, termasuk pada populasi pasien Asia.
Sementara itu, pada kanker payudara HER2-positif stadium awal berisiko tinggi, penggunaan ADC praoperatif sebelum rejimen standar kombinasi terapi target dan kemoterapi meningkatkan proporsi pasien yang mencapai pathologic complete response, sekaligus tetap mempertahankan kelayakan untuk menjalani tindakan pembedahan.
Secara keseluruhan, temuan ini menunjukkan bahwa ADC berpotensi memberikan manfaat lebih besar jika digunakan pada tahap yang lebih awal dalam perawatan kanker payudara.
Baca juga: Dokter Ungkap Bahaya Mikroplastik, Bisa Picu Batuk Kronis hingga Kanker Paru
“Di Indonesia dan kawasan sekitarnya, kami bekerja sama dengan para tenaga kesehatan, pembuat kebijakan, dan komunitas pasien untuk menerjemahkan bukti klinis menjadi akses yang lebih merata, sehingga lebih banyak pasien dapat menerima terapi yang tepat pada waktu yang tepat," kata Esra Eskomay, Presiden Direktur AstraZeneca Indonesia.
Baca tanpa iklan