Inilah yang membuat sunat tidak sekadar prosedur budaya, tetapi juga langkah pencegahan medis.
Sunat Bukan Sekadar Budaya atau Agama
Masih banyak anggapan bahwa sunat hanya berkaitan dengan faktor agama atau tradisi keluarga.
Padahal, dari sudut pandang medis, manfaatnya bersifat universal.
Ia menegaskan bahwa meskipun faktor budaya dan agama memang ada, rekomendasi medis tetap berdiri sendiri.
“Ya terlepas dari budaya ataupun agama atau kultur itu juga memang dari segi medis sangat dianjurkan,” katanya.
Dengan sunat, risiko infeksi saluran kemih dapat ditekan, kebersihan organ intim lebih mudah dijaga, dan potensi masalah kesehatan jangka panjang bisa dicegah sejak dini.
Usia Ideal Sunat Menurut Medis
Soal waktu pelaksanaan, dr. Andi menyebut semakin dini dilakukan, justru semakin baik dari sisi penyembuhan luka.
Pada usia bayi dan balita, regenerasi sel berlangsung lebih cepat sehingga proses pemulihan cenderung singkat dan minim komplikasi.
Bahkan, sunat bisa dilakukan sejak usia dua minggu setelah lahir, selama kondisi penis dinyatakan normal dan tidak memiliki kelainan bawaan.
"Lebih cepat lebih baik,"ujarnya.
Pimosis yang ditemukan pada bayi umumnya bersifat fisiologis dan merupakan kondisi normal.
Hal ini sekaligus mematahkan anggapan bahwa sunat sebaiknya ditunda hingga anak lebih besar.
Berdasarkan pengalaman klinis, anak yang disunat sejak dini justru pulih lebih cepat dan beraktivitas normal tanpa gangguan.
Bahkan, jika tidak ada kelainan pada penis, sunat boleh dilakukan pada anak laki-laki yang baru berusia satu bulan.
Penundaan sunat terlalu lama bisa meningkatkan risiko infeksi akibat kebersihan yang sulit dijaga pada kulup yang masih menutup.
Langkah kecil di awal kehidupan ini dapat memberi dampak besar bagi kesehatan saluran kemih dan kualitas hidup anak di masa depan.
Baca tanpa iklan