News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Pakar Ingatkan Risiko Kesehatan Awal 2026, Mobilitas Tinggi, Influenza hingga DBD Mengintai

Penulis: Aisyah Nursyamsi
Editor: Malvyandie Haryadi
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

RISIKO KESEHATAN - Dokter, epidemiolog sekaligus pakar kesehatan global, Dicky Budiman, menegaskan bahwa ketahanan kesehatan di 2026 tidak ditentukan oleh kecanggihan teknologi semata.

Ringkasan Berita:

  • Memasuki tahun 2026, ancaman kesehatan meningkat sejak awal tahun karena mobilitas tinggi, perjalanan padat, dan kelelahan fisik.
  • Dicky Budiman, dokter dan epidemiolog, menekankan bahwa ketahanan kesehatan tidak hanya bergantung pada kecanggihan teknologi.
  • Faktor utama adalah kemampuan membaca risiko lebih dini dan merespons secara tepat.

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Memasuki tahun 2026, ancaman kesehatan tidak datang tiba-tiba. 

Risiko justru meningkat sejak hari-hari awal tahun, seiring tingginya mobilitas masyarakat, kepadatan perjalanan, dan kelelahan fisik yang kerap dianggap sepele.

Dokter, epidemiolog sekaligus pakar kesehatan global, Dicky Budiman, menegaskan bahwa ketahanan kesehatan di 2026 tidak ditentukan oleh kecanggihan teknologi semata.

Melainkan kemampuan membaca risiko lebih dini dan merespons secara tepat.

“Jadi pesan strategis menyongsong 2026, sekali lagi kesehatan di 2026 tidak akan ditentukan oleh kecanggihan teknologi semata. Tapi oleh kemampuan kita dalam membaca risiko lebih awal, bertindak lintas sektor, dan menjaga kepercayaan publik,"kata Dicky pada keterangannya, Selasa (30/12/2025). 

Awal tahun, menurut Dicky, menjadi fase rawan karena lonjakan perjalanan jarak jauh, kepadatan transportasi umum, serta pola istirahat yang terganggu. 

Kondisi tersebut memicu kelelahan, menurunkan imunitas tubuh, dan meningkatkan risiko kecelakaan maupun penularan penyakit.

Ia mengingatkan masyarakat agar tidak memaksakan perjalanan saat kondisi tubuh tidak prima. 

Kebutuhan dasar seperti istirahat cukup, asupan cairan, serta manajemen stres selama perjalanan menjadi kunci menjaga kesehatan di masa padat mobilitas.

Penggunaan masker juga kembali relevan, terutama saat menggunakan transportasi umum di kondisi padat atau ruang tertutup. 

Pasalnya, awal tahun identik dengan meningkatnya infeksi saluran pernapasan, termasuk influenza dan Covid-19 subvarian musiman.

Kelompok berisiko tinggi seperti lansia dan individu dengan gangguan imunitas perlu mendapat perhatian ekstra. 

Pada kelompok ini, infeksi influenza maupun Covid-19 berpotensi berkembang menjadi pneumonia dan berujung fatal.

Dicky menyebut, tren peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan sudah mulai terdeteksi dalam beberapa waktu terakhir. 

Selain itu, masyarakat juga perlu waspada terhadap demam berdarah dengue (DBD) yang kerap meningkat akibat genangan air di musim hujan.

Ia menekankan pentingnya tidak menormalisasi sakit ringan yang bersifat menular. 

Demam yang berlangsung lebih dari dua hari seharusnya menjadi sinyal untuk segera memeriksakan diri.

“Ingat ya sebetulnya risiko terbesar itu bukan pada penyakitnya tapi keterlambatan respon yang diberikan," tegasnya. 

Selain penyakit infeksi, risiko kesehatan lain yang mengintai di awal tahun adalah konsumsi makanan dan minuman berlebihan. 

Pola makan tinggi gula, lemak, konsumsi alkohol, serta waktu tidur yang tidak teratur dapat memicu gangguan kesehatan akut.

Kondisi seperti tekanan darah tidak terkendali, lonjakan gula darah, gangguan lambung, hingga masalah jantung kerap muncul setelah periode libur panjang. 

Meski terlihat mendadak, dampaknya bisa serius bila tidak diantisipasi.

Dari sisi pemerintah, Dicky menekankan pentingnya kesiapsiagaan sistem kesehatan di akhir dan awal tahun. 

Rumah sakit dan puskesmas perlu siap menghadapi potensi lonjakan kasus infeksi maupun kecelakaan.

Termasuk memastikan ketersediaan obat esensial dan tenaga kesehatan yang tidak mengalami kelelahan ekstrem.

Mitigasi bencana kesehatan musiman juga menjadi krusial, mengingat Indonesia rawan bencana hidrometeorologi di periode ini. 

Dampaknya tidak hanya pada kesehatan, tetapi bisa bersifat multidimensi dan meluas.

Dalam situasi pergerakan massa yang tinggi, komunikasi risiko menjadi kunci utama. 

Pesan kesehatan harus disampaikan secara jelas, konsisten, empatik, dan mudah dipahami masyarakat.

“Harus disadari bahwa komunikasi risiko itu intervensi kesehatan murah dengan dampak yang besar,"imbuhnya. 

Menutup peringatannya, Dicky menyampaikan bahwa tantangan kesehatan global ke depan semakin kompleks. 

Dunia belum berada pada posisi yang aman, dan ancaman pandemi maupun gangguan kesehatan lain justru berpotensi meningkat.

Karena itu, awal tahun yang sehat tidak ditentukan oleh resolusi besar, melainkan keputusan kecil yang konsisten dan sadar risiko, baik oleh masyarakat maupun pemerintah.

 

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini