Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi
Ringkasan Berita:
- Saat liburan, ada ancaman kesehatan yang kerap luput dari perhatian orang tua, yakni penularan campak pada anak.
- Campak bukan sekadar penyakit ruam yang bisa sembuh dengan sendirinya.
- Pada anak, terutama bayi dan balita dengan sistem imun yang belum matang, campak dapat berkembang serius.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA –Libur akhir tahun identik dengan momen berkumpul bersama keluarga, bepergian, dan meningkatnya mobilitas masyarakat.
Baca juga: 10 Provinsi dengan Tingkat Imunisasi Campak pada Balita Terendah di Tahun 2025
Namun di balik suasana hangat tersebut, ada ancaman kesehatan yang kerap luput dari perhatian orang tua, yakni penularan campak pada anak.
Campak bukan sekadar penyakit ruam yang bisa sembuh dengan sendirinya.
Pada anak, terutama bayi dan balita dengan sistem imun yang belum matang, campak dapat berkembang menjadi kondisi serius yang mengancam nyawa bila tidak dicegah sejak awal.
Karena itu, vaksinasi menjadi kunci utama perlindungan anak dari komplikasi campak.
Kasus Campak Masih Tinggi, Anak Jadi Kelompok Paling Rentan
Tren peningkatan kasus campak di Indonesia masih menjadi perhatian. Data Kementerian Kesehatan RI mencatat lebih dari 3.500 kasus campak sepanjang 2024.
Hingga Agustus 2025, jumlahnya kembali menembus lebih dari 3.400 kasus dengan 46 Kejadian Luar Biasa (KLB) campak di sejumlah wilayah.
Baca juga: Campak Bangkit Lagi Setelah Pandemi, 11 Juta Kasus dan 95 Ribu Kematian
Situasi ini diperparah dengan tingginya mobilitas masyarakat saat liburan, yang membuka peluang penularan virus secara masif, terutama di ruang tertutup dan tempat umum.
Campak atau measles merupakan penyakit infeksi virus yang menular melalui saluran pernapasan.
Penularannya terjadi lewat percikan droplet saat batuk, bersin, berbicara, hingga sentuhan benda yang terkontaminasi.
Daya tularnya sangat tinggi, bahkan seseorang bisa menularkan virus ini sejak empat hari sebelum hingga empat hari setelah gejala muncul.
Virus campak juga mampu bertahan di udara hingga dua jam, terutama di ruangan dengan ventilasi buruk.
Kondisi ini membuat anak-anak menjadi kelompok paling rentan, terlebih bila belum mendapatkan vaksinasi lengkap.
Gejala Awal Sering Dianggap Ringan
Pada fase awal, campak kerap disalahartikan sebagai flu biasa. Anak biasanya mengalami demam, batuk kering, pilek, lemas, muntah, hingga diare.
Beberapa hari kemudian, ruam kemerahan mulai muncul di wajah dan leher, lalu menyebar ke seluruh tubuh.
Masalahnya, pada anak, campak yang tidak segera ditangani berisiko menyerang berbagai organ vital.
“Campak lebih berbahaya jika dialami oleh bayi karena imunitas tubuhnya belum sempurna seperti orang dewasa," tegas Dokter Spesialis Anak RS Pondok Indah Bintaro Jaya, dr. Caessar Pronocitro, Sp.A, M.Sc, pada keterangannya, Rabu (31/12/2025).
Komplikasi Campak Bisa Berujung Fatal
Campak memiliki kemampuan unik untuk melemahkan sistem kekebalan tubuh secara signifikan.
Inilah yang membuka pintu bagi komplikasi berat, bukan hanya akibat virus campak itu sendiri, tetapi juga infeksi lanjutan yang menyertainya.
Salah satu komplikasi paling sering dan mematikan adalah pneumonia atau radang paru.
Infeksi ini dapat membuat napas anak menjadi cepat dan sesak, hingga memerlukan perawatan intensif.
Tak sedikit kasus kematian akibat campak dipicu oleh komplikasi ini.
Selain itu, campak juga dapat menyebabkan ensefalitis atau radang otak. Kondisi ini ditandai dengan penurunan kesadaran, kejang, hingga gangguan saraf jangka panjang.
Bahkan, beberapa minggu setelah campak sembuh, anak masih berisiko mengalami peradangan otak dan saraf tulang belakang yang memicu gangguan keseimbangan atau kelumpuhan mendadak.
Diare berat dan dehidrasi juga menjadi ancaman serius, terutama pada bayi.
Kerusakan lapisan usus akibat virus campak dapat membuat tubuh kehilangan cairan dengan cepat, hingga berujung pada syok dan kematian bila terlambat ditangani.
Vaksinasi Jadi Perlindungan Utama Anak
Hingga kini, belum ada antivirus khusus untuk mengatasi campak.
Penanganannya bersifat suportif, mulai dari istirahat cukup, pemenuhan cairan dan gizi, hingga pemberian vitamin A dosis tinggi sesuai anjuran dokter.
“Mengingat penanganan campak hanya bersifat suportif, pencegahan menjadi hal yang sangat penting untuk dilakukan, yakni dengan melengkapi vaksinasi dan menjaga imunitas bayi dan anak,"imbuhnya.
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) merekomendasikan vaksin MR diberikan pertama kali pada usia 9 bulan, dosis kedua pada usia 15–18 bulan, dan dosis ketiga saat anak berusia 5–7 tahun.
Jadwal ini bertujuan membentuk perlindungan optimal terhadap campak dan rubella.
Bahaya Penolakan Vaksin bagi Bayi
Masih adanya penolakan vaksin menjadi salah satu penyebab menurunnya cakupan imunisasi dan meningkatnya kasus campak.
Padahal, satu anak yang tidak divaksinasi dapat menularkan virus ke hampir semua orang di sekitarnya yang belum memiliki kekebalan.
Ironisnya, bayi di bawah usia 9 bulan yang belum bisa divaksin justru menjadi kelompok paling terdampak.
Satu-satunya perlindungan mereka adalah kekebalan kelompok atau herd immunity, yakni ketika lingkungan sekitar sudah terlindungi oleh vaksin.
Untuk bayi yang belum cukup usia vaksin, orang tua perlu memastikan lingkungan tetap aman, mulai dari penggunaan masker, rajin mencuci tangan, hingga membatasi kontak dengan orang yang sedang sakit.
“Melihat komplikasinya yang berat dan sangat berisiko bagi anak, pencegahan dengan melengkapi vaksin menjadi prioritas utama,"pesannya.
Dengan cakupan vaksin yang tinggi, penyebaran virus campak dapat ditekan, sekaligus melindungi bayi yang belum memiliki kekebalan.
Langkah sederhana ini menjadi investasi besar untuk menjaga kesehatan anak dan masa depan generasi penerus bangsa.
Baca tanpa iklan