Menurut Prof. Agus, idealnya kencing tidak ditahan, tetapi terlalu sering buang air kecil juga perlu diwaspadai.
“Kalau ditanya, seberapa lama boleh menahan tipis? Harusnya nggak boleh. Tapi kalau terlalu cepat, itu juga tidak baik,” ujarnya.
Ia menyebut, frekuensi buang air kecil kurang dari satu jam sekali patut dicurigai dan perlu dicari penyebabnya. Sebaliknya, menahan kencing terlalu lama juga berisiko.
“Yang paling aman sebenarnya tidak lebih dari 3 jam,” kata Prof. Agus.
Meski dalam kondisi tertentu seperti olahraga atau perjalanan panjang bisa mencapai 4–5 jam, kebiasaan ini sebaiknya tidak dijadikan rutinitas harian.
Kebiasaan Sederhana yang Sering Diabaikan
Dalam praktik sehari-hari, Prof. Agus justru menekankan pentingnya kebiasaan sederhana: ke toilet sebelum bepergian, meski belum merasa sangat ingin kencing.
Ia menilai, fasilitas toilet di kota besar seperti Jakarta sudah jauh lebih memadai, sehingga tidak ada alasan untuk terus menahan.
Menurutnya, langkah kecil ini dapat mencegah risiko gangguan fungsi kandung kemih di kemudian hari.
Jika seseorang merasa frekuensi kencingnya terlalu sering atau justru jarang, Prof. Agus menyarankan untuk tidak mengabaikannya.
Perubahan pola buang air kecil bisa menjadi sinyal awal adanya gangguan yang perlu diperiksa lebih lanjut.
Menahan kencing mungkin terasa remeh, tetapi dampaknya bisa serius.
Tubuh memiliki mekanisme alami yang sebaiknya tidak dilawan terlalu sering.
Mendengarkan sinyal tubuh, kata Prof. Agus, adalah bentuk perawatan kesehatan paling dasar namun sering diabaikan.
Baca tanpa iklan