Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi
Ringkasan Berita:
- Banyak yang lega karena anak lahap makan dan bertubuh gemuk.
- Pandangan jika gemuk itu sehat belum sepenuhnya benar.
- Dokter Anak dr. Mesty Ariotedjo, Sp.A, MPH mengingatkan bahwa tubuh gemuk bukan jaminan anak mendapatkan zat gizi yang cukup.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Di banyak keluarga muda, pemandangan anak lahap makan dan bertubuh gemuk kerap menjadi sumber rasa lega.
Baca juga: Mengenal Ciri-ciri Anak Gemuk Akibat Konsumsi Obat Steroid, Pipi Tembab hingga Muncul Stretch Mark
Selama anak mau makan dan berat badan naik, urusan gizi dianggap aman.
Namun pola pikir ini diam-diam menyimpan celah besar dalam pemenuhan nutrisi anak.
Dokter spesialis anak dr. Mesty Ariotedjo, Sp.A, MPH mengingatkan bahwa tubuh gemuk bukan jaminan anak mendapatkan zat gizi yang cukup.
Ia memaparkan realitas yang kerap luput dari perhatian orang tua. Salah satunya kekurangan gizi yang dibutuhkan tubuh seperti vitamin D.
“Karena kan banyak orang tua yang mengidentikan gemuk itu sehat. Atau yang penting apa aja masuk deh, yang penting anak saya makan beratnya naik,"ungkapnya pada Live Podcast Boostopia by Expertboost Pahami Strategi Optimalkan Nutrisi Anak, Bekal Peace of Mind Orang Tua!” di Pondok Indah Mall, Jakarta Selatan, Senin (9/2/2026).
Ia menjelaskan, kekurangan gizi tersebut sering tidak terlihat dari luar.
Anak bisa tampak aktif, ceria, bahkan memiliki berat badan ideal, namun tetap mengalami defisiensi zat gizi mikro yang berperan penting dalam tumbuh kembang.
Menurut dr. Mesty, kekurangan vitamin D dan zat besi menjadi masalah paling dominan.
Vitamin D berkaitan erat dengan imunitas dan pertumbuhan optimal, sementara zat besi berperan besar dalam perkembangan otak anak.
Di beberapa negara, skrining zat besi bahkan sudah menjadi prosedur standar sejak usia dini.
Baca tanpa iklan