TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Penyakit jantung dan stroke masih menjadi penyebab kematian tertinggi di Indonesia.
Persoalannya, banyak kasus baru terdeteksi saat kondisinya sudah cukup serius.
Gejala awal kerap tidak disadari karena muncul samar atau dianggap keluhan biasa.
Di sinilah peran pemeriksaan penunjang menjadi penting. Teknologi pencitraan medis membantu dokter melihat kondisi organ tubuh secara lebih detail, sehingga diagnosis bisa ditegakkan lebih cepat dan akurat.
Salah satu metode yang banyak digunakan adalah CT Scan (Computed Tomography Scan).
Pemeriksaan ini mampu menampilkan gambaran organ dalam tubuh, termasuk jantung, pembuluh darah dan otak.
Menurut dr. Ardian Jahja Saputra, Sp.JP, perkembangan teknologi CT Scan membuat proses pemindaian kini jauh lebih cepat dengan hasil gambar yang semakin tajam.
Generasi terbaru bahkan sudah menggunakan sistem 512 slices yang memungkinkan visualisasi organ terlihat lebih rinci.
“Pada pemeriksaan jantung, fitur 1-beat cardiac imaging memungkinkan pemindaian dilakukan hanya dalam satu denyut jantung. Ini membantu mengurangi gangguan akibat pergerakan dan membuat hasilnya lebih akurat,” ujarnya saat peresmian CT Scan Revolution Apex Terbaru dan Aplikasi Digital di Medistra Hospital, Jakarta, Rabu (11/2/2026).
Ia menambahkan, teknologi Metal Artifact Reduction (MAR) juga membantu mengurangi bayangan atau gangguan gambar pada pasien yang memiliki implan logam, seperti ring jantung atau sendi buatan.
Sebelumnya, kondisi ini kerap menyulitkan dokter saat membaca hasil pencitraan.
Kecepatan pemeriksaan juga sangat krusial pada kasus stroke. Dalam kondisi darurat, setiap menit sangat berharga.
Teknologi pemindaian khusus stroke memungkinkan dokter lebih cepat mengidentifikasi adanya sumbatan atau perdarahan di otak, sehingga terapi bisa segera diberikan.
Selain soal kecepatan dan ketajaman gambar, faktor keamanan turut menjadi perhatian.
Baca tanpa iklan