News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Tren Olahraga Padel Meningkat, Ini Risiko Cedera dan Cara Mencegahnya

Penulis: Eko Sutriyanto
Editor: Erik S
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

RISIKO CEDERA OTOT - Tren padel kian populer di perkotaan karena seru dan sosial, namun risiko cedera otot serta sendi ikut meningkat Gerakan cepat, perubahan arah mendadak, dan teknik kurang tepat memicu keseleo hingga overuse injury

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Tren olahraga sosial seperti padel kian digemari masyarakat perkotaan. Lapangan-lapangan baru bermunculan, komunitas terbentuk, dan jadwal bermain kerap penuh terutama pada akhir pekan. 

Permainan yang memadukan gerakan cepat, manuver lateral, serta pukulan raket berintensitas tinggi ini dinilai seru, kompetitif, sekaligus menjadi ajang bersosialisasi.

Namun di balik popularitasnya, risiko cedera otot dan sendi ikut meningkat. Padel menuntut perubahan arah mendadak, gerakan menyamping yang berulang, hingga lompatan pendek yang eksplosif.

Bagi pemain pemula yang belum terbiasa dengan pola gerak tersebut, tubuh sering kali 'kaget' menghadapi beban latihan yang relatif tinggi.

Masalah gangguan muskuloskeletal sendiri bukan perkara kecil. Dalam panduan tahun 2023, World Health Organization (WHO) mencatat sekitar 619 juta orang di dunia mengalami nyeri punggung bawah pada 2020.

Angka ini diproyeksikan terus meningkat seiring gaya hidup sedentari dan penuaan populasi. Ironisnya, sebagian cedera justru terjadi pada mereka yang sedang berupaya keluar dari gaya hidup kurang gerak.

Cedera olahraga paling sering terjadi pada lutut dan pergelangan kaki, terutama pada aktivitas dengan perubahan arah cepat dan gerakan repetitif. Pada padel, tekanan besar terjadi saat pemain harus berhenti mendadak, berbalik arah, atau menjangkau bola di sudut lapangan.

Tanpa teknik yang tepat, sendi menerima beban yang tidak seimbang sehingga meningkatkan risiko keseleo, peradangan tendon, hingga overuse injury.

Studi Injury Epidemiology in Elite Adult Field-Based Team Sports menunjukkan cedera cukup umum terjadi pada aktivitas fisik berintensitas tinggi, terutama akibat kombinasi volume latihan berlebih dan teknik yang kurang optimal.

Pola ini juga relevan pada olahraga rekreasional, terlebih jika pemain jarang melakukan latihan penguatan otot penopang sendi.

Gerakan repetitif yang terus-menerus tanpa pemulihan memadai dapat memicu akumulasi mikrotrauma pada jaringan otot dan tendon. Dalam jangka pendek mungkin hanya terasa pegal, tetapi bila diabaikan bisa berkembang menjadi cedera kronis yang membutuhkan waktu pemulihan lebih lama.

Baca juga: 4 Tips Mencegah Nyeri Punggung Bawah, Latihan Yoga dan Pillates Bisa Jadi Pilihan

Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi dari Heisei Rehabilitation Clinic, dr. Ega Jaya, Sp.KFR, AIFO-K, menegaskan bahwa peningkatan aktivitas fisik perlu diimbangi pemahaman tentang pencegahan cedera.

“Edukasi mengenai manajemen nyeri dan strategi pemulihan menjadi kunci agar masyarakat tetap aktif tanpa mengorbankan kesehatan jangka panjang,” ujarnya saat acara Omron Sport Tens dan Omron Tens di Jakarta belum lama ini.

Menurutnya, nyeri pascaaktivitas kerap muncul akibat lonjakan intensitas latihan secara mendadak, teknik gerakan yang kurang tepat, atau minimnya pemanasan dan pendinginan.

Ia menyarankan prinsip peningkatan bertahap (progressive overload), latihan penguatan otot inti dan tungkai, serta peregangan dinamis sebelum bermain.

Halaman
12
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini