TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Paparan timbal masih menjadi ancaman tersembunyi, mulai dari rumah tinggal hingga fasilitas publik.
Tanpa disadari zat beracun ini dapat masuk ke tubuh melalui debu, udara, maupun material bangunan yang digunakan, dan berdampak serius bagi kesehatan, terutama pada anak-anak dan ibu hamil.
Baca juga: Paparan Timbal pada Anak Sering Tak Terlihat, Dampaknya Bisa ke Otak hingga Perilaku
Timbal merupakan logam beracun yang secara alami ada di lingkungan, namun penggunaannya secara luas dalam berbagai produk telah meningkatkan risiko paparan bagi manusia.
Dokter Spesialis Kesehatan Anak Konsultan Nefrologi Anak Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Reza Fahlevi menuturkan, sumber paparan timbal bisa berasal dari sekitar lingkungan tinggal.
“Mulai dari debu rumah, serpihan cat lama, tanah yang terkontaminasi, hingga material tertentu di lingkungan hunian dan fasilitas publik,” ujarnya dalam diskusi Forum Ngobras di Jakarta, Rabu (8/4/2026).
Sifat timbal yang akumulatif membuat paparan jangka panjang tetap berbahaya meski dalam kadar rendah.
Pada orang dewasa, paparan timbal dikaitkan dengan penyakit ginjal dan penyakit kardiovaskular, termasuk hipertensi dan penyakit jantung koroner. Sedangkan bagi ibu hamil, paparan timbal menjadi perhatian khusus karena dapat melintasi plasenta.
“Hal ini bisa meningkatkan risiko keguguran, kelahiran prematur, hingga berat badan lahir rendah,” terang dr. Reza.
Sementara pada anak, paparan timbal berdampak serius pada kesehatan, terutama pada anak-anak, dengan risiko seperti anemia, gangguan sistem imun, menurunnya poin IQ serta gangguan pertumbuhan dan perkembangan fisik anak.
“Bisa menjadi lost generation, karena anak itu tidak memiliki kemampuan kapasitas otak yang optimal,” ungkap dia.
Ahli Kimia dan Guru Besar Departemen Kimia FMIPA Universitas Indonesia, Prof. Dr. Yuni Krisyuningsih Krisnandi menambahkan, cat yang mengelupas merupakan salah satu faktor risiko paparan timbal di tingkat rumah tangga.
Baca juga: Cegah Risiko Kesehatan, Arsitek Sarankan Masyarakat Tak Gunakan Material Berbahan Timbal
Data Surveilans Nasional BRIN menunjukkan bahwa 1 dari 7 anak di Indonesia memiliki kadar timbal dalam darah di atas ambang batas aman. Hal ini menunjukkan bahwa paparan timbal masih menjadi persoalan serius yang perlu mendapat perhatian.
“Paparan timbal, bahkan dalam kadar rendah, dapat merusak berbagai sistem organ tubuh termasuk tulang, ginjal dan sistem saraf, karena terserap ke aliran darah,” ujar Prof Yuni.
Salah satu sumber utama paparan berasal dari penggunaan cat yang mengandung timbal, terutama pada bangunan lama atau material yang tidak memenuhi standar keamanan.
Baca tanpa iklan