Ringkasan Berita:
- Mayoritas kasus cedera olahraga bukan berupa robekan atau putusnya jaringan, melainkan inflamasi atau peradangan
- Inflamasi kondisi yang menimbulkan gejala berupa nyeri, pembengkakan, memar serta perubahan warna kulit. Meskipun terlihat ringan, kondisi ini tidak boleh dianggap sepele
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Cedera olahraga sering dikaitkan dengan kondisi serius seperti ligamen robek atau tulang patah.
Padahal menurut Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga Zeth Boroh, sebagian besar cedera bukan cedera berat, melainkan kasus yang ringan, namun berisiko serius karena tidak ditangani dengan cepat dan tepat.
“Kalau berbicara tentang cedera olahraga, yang paling sering ditemukan adalah cedera muskuloskeletal, yaitu cedera pada otot, tendon, ligamen, sendi,” kata dia dalam peluncuran Thrombovoren gel di Jakarta pada Kamis (16/4/2026).
Baca juga: Tarra Budiman Kurangi Olahraga Usai Transplantasi Rambut, Ini Penyebabnya
Ia menyebut, mayoritas kasus cedera olahraga bukan berupa robekan atau putusnya jaringan, melainkan inflamasi atau peradangan. Inflamasi ini biasanya terjadi akibat penggunaan berlebih (overuse), terutama pada olahraga yang dilakukan secara berulang seperti lari.
Inflamasi kondisi yang menimbulkan gejala berupa nyeri, pembengkakan, memar serta perubahan warna kulit. Meskipun terlihat ringan, kondisi ini tidak boleh dianggap sepele.
Jika dibiarkan, inflamasi dapat berkembang menjadi kronis.
“Penanganan inflamasi ini sangat penting. Karena kalau dibiarkan inflamasinya akan jadi kronis,” sebut dokter Zeth.
Apa yang Harus Dilakukan saat Cedera Olahraga Berupa Nyeri dan Memar?
Ia mengatakan, hal yang umum dilakukan adalah metode RICE (Rest, Ice, Compression, Elevation) yang meliputi istirahat dan hindari aktivitas yang memberi beban pada engkel, kompres dingin selama 15–20 menit beberapa kali sehari, menggunakan pembalut elastis atau ankle support serta menjaga kaki tetap lebih tinggi saat beristirahat
Prosedur ini untuk mengurangi peradangan dan mempercepat proses pemulihan.
Namun, penanganan itu saja tidak cukup. Selama peradangan masih berlangsung, proses penyembuhan tidak berjalan optimal.
“Untuk mempercepat proses ini adalah pemberian anti-inflamasi. Pemberian anti-inflamasi bisa dengan oral, bisa dengan gel topikal,” terang dia.
Penggunaan gel topikal dengan kandungan heparin bisa membantu mengurangi memar dengan mencegah penggumpalan darah di bawah kulit, sementara diclofenac diethylamine berperan sebagai anti-inflamasi untuk meredakan nyeri dan pembengkakan.
“Seiring meningkatnya gaya hidup aktif masyarakat, penanganan cedera yang cepat dan tepat menjadi semakin penting agar aktivitas sehari-hari tetap dapat berjalan dengan nyaman,” ujar Managing Director PT Tunggal Idaman Abdi, dr. Hendra Gunawan.
Baca tanpa iklan