TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Banyak orang mengira biaya kanker hanya soal pengobatan di rumah sakit.
Padahal, ada beban lain yang sering tidak terlihat, namun dampaknya sangat besar bagi pasien dan keluarga.
Baca juga: Angka Penderita Kanker di Indonesia Terus Naik, Dokter Ingatkan Pentingnya Deteksi Dini
Kepala Tim Tata Kelola Pengembangan, Pelayanan dan Pengampuan Kanker Terpadu RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM), Prof. Dr. dr. Soehartati A Gondhowiardjo, Sp.Onk.Rad(K), mengungkap adanya biaya tersembunyi atau hidden cost yang sering luput dari perhatian.
“Bukan hanya dari obat-obatan yang dipakai, tapi sebenarnya biaya yang dikeluarkan, loss yang dikeluarkan, yang saya sebut sebagai hidden loss,” ujarnya pada talkshow virtual Kanker di Era Digital: Antara Literasi, Mitos, dan Harapan dalam acara HUT ke-23 CISC, Sabtu (2/5/2026).
Baca juga: Metode Deteksi Dini Kanker Terbaru Ada di Indonesia, Pemeriksaan Melalui Sampel Darah
Biaya Tak Terlihat yang Menguras
Biaya ini tidak tercatat sebagai biaya medis, tetapi justru sangat membebani pasien.
Mulai dari kehilangan penghasilan, biaya transportasi ke rumah sakit, hingga kebutuhan sehari-hari selama pengobatan.
“Biaya untuk nggak kerja, biaya untuk satu orang nemenin nggak kerja, biaya untuk beli makanan sehat, biaya untuk tiap hari ke rumah sakit untuk berobat,” jelasnya.
Bahkan, menurutnya, biaya non-medis ini bisa setara dengan biaya pengobatan itu sendiri.
“Out of pocket itu kira-kira sama besarnya dengan medical cost yang dikeluarkan,” katanya.
Financial Toxicity: Ketika Biaya Jadi Beban Psikologis
Beban biaya ini tidak hanya berdampak secara ekonomi, tetapi juga secara psikologis.
Fenomena ini dikenal sebagai financial toxicity, kondisi ketika tekanan biaya memengaruhi kondisi mental dan keputusan pengobatan pasien.
“Non-medical cost itu menyebabkan stress khusus, itu yang disebut sebagai financial toxicities,” ungkap Prof. Soehartati.
Dampaknya sangat serius. Salah satunya adalah menurunnya kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan.
“Yang bahaya itu dia akan mengurangi compliance terhadap pengobatan,” tegasnya.
Baca juga: Dari Rasa Takut Jadi Harapan, Kisah Pasien Kanker Payudara Jalani PET-CT dan SPECT-CT Scan
Baca tanpa iklan