“Komplikasi yang kita takutkan adalah pneumonia, terus gagal napas, terus meninggal,” tegasnya.
Penularan influenza pun tergolong sangat cepat karena dapat terjadi melalui aktivitas sehari-hari seperti berbicara, batuk, atau bersin. Virus yang keluar dalam bentuk percikan dapat menempel di berbagai permukaan benda dan menjadi sumber penularan tidak langsung.
“Pecikan nempel di meja, kita pegang, bisa tertular,” jelasnya.
Dengan tingkat penularan yang tinggi, influenza berpotensi menyebar luas dalam waktu singkat.
“Karena mudah penularan terjadilah pandemi,” tambahnya.
Influenza juga tidak mengenal batas usia. Semua kelompok, mulai dari bayi hingga lansia, memiliki risiko terpapar. Namun, anak-anak disebut sebagai kelompok yang lebih rentan mengalami dampak serius.
“Anak-anak itu lebih banyak. 20–30 persen meninggal anak-anak,” ungkapnya.
Baca juga: Anak Demam Tinggi Lebih Lama? Awas! Itu Tanda Influenza yang Dampaknya Bisa ke Otak
Selain itu, individu dengan penyakit penyerta atau komorbid menjadi kelompok yang harus lebih waspada. Kondisi kesehatan yang sudah terganggu dapat memperparah dampak infeksi influenza.
“Orang punya komorbid akan lebih parah bila dia terkena influenza,” jelasnya.
Ia mencontohkan, pasien dengan penyakit jantung dapat mengalami kondisi yang lebih buruk hingga memicu serangan jantung.
“Yang sakit jantung bisa menjadi serangan jantung,” tambahnya.
Dengan berbagai risiko tersebut, pemahaman mengenai perbedaan flu biasa dan influenza menjadi hal penting yang tidak boleh diabaikan. Kesadaran ini diharapkan dapat mendorong masyarakat untuk lebih waspada serta mengambil langkah pencegahan demi melindungi diri dan keluarga.
Baca tanpa iklan