Ringkasan Berita:
- Tiga orang dilaporkan meninggal dunia karena dugaan wabah di kapal pesiar MV Hondius yang berlayar dari Argentina menuju Cape Verde.
- WHO memastikan risiko bagi masyarakat global tetap rendah sehingga masyarakat tidak perlu panik.
- WHO menegaskan bahwa kekhawatiran terhadap potensi penyebaran luas Hantavirus tidak berdasar.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) menegaskan bahwa kekhawatiran terhadap potensi penyebaran luas Hantavirus tidak berdasar.
Meski sempat mencuat laporan tiga kematian dalam dugaan wabah di kapal pesiar MV Hondius yang berlayar dari Argentina menuju Cape Verde.
Baca juga: Fakta-Fakta Hantavirus di Kapal Pesiar, 3 WN Belanda Tewas dalam Perjalanan ke Afrika
WHO memastikan risiko bagi masyarakat global tetap rendah dan tidak memerlukan langkah drastis seperti pembatasan perjalanan internasional.
Kepala Kantor WHO Regional Eropa, Hans Kluge, menegaskan bahwa infeksi hantavirus pada umumnya berkaitan erat dengan paparan lingkungan, terutama kontak dengan urine atau feses hewan pengerat yang terinfeksi.
Ia menekankan bahwa meskipun dalam beberapa kasus penyakit ini dapat berkembang menjadi kondisi serius, penularannya tidak mudah terjadi antar manusia.
“Risiko bagi masyarakat luas tetap rendah. Tidak ada alasan untuk panik atau melakukan pembatasan perjalanan,” ujar Kluge dalam pernyataannya melalui platform X, Senin(4/5/2026).
Tiga Orang Meninggal
Laporan sebelumnya menyebutkan tiga orang meninggal dunia dalam insiden yang diduga terkait hantavirus di atas kapal tersebut.
Tiga orang yang telah meninggal dunia adalah warga negara Belanda. Pria berusia 70 tahun, dan seorang wanita berusia 69 tahun keduanya adalah pasangan suami istri dan diketahui telah meninggal dunia.
Satu pria meninggal saat kapal pesiar tiba di pulau St Helena, wilayah Inggris di Atlantik Selatan. Jenazahnya hingga saat ini masih ada di kapal.
Wanita tersebut juga jatuh sakit di atas kapal dan dievakuasi ke Afrika Selatan, di mana ia meninggal di sebuah rumah sakit di Johannesburg, Afrika Selatan.
Dua awak kapal juga kapal pesiar mengalami sakit dan membutuhkan perawatan darurat.
Kapal tersebut tampaknya telah diam di lepas pantai Tanjung Verde setidaknya selama 24 jam - media lokal melaporkan bahwa penumpang tidak akan turun di kepulauan tersebut; operator mengatakan "tidak ada izin" yang diberikan.
Kapal ini memiliki panjang 107,6 meter, dengan lebar 17,6 meter. Terdapat 80 kabin di dalamnya, yang dapat menampung hingga 170 penumpang dan 57 awak kapal, 13 pemandu wisata, dan satu dokter, menurut perusahaan pelayaran tersebut.
Departemen Kesehatan Afrika Selatan mengatakan kapal tersebut membawa sekitar 150 wisatawan.
Bukan Indikasi Wabah Global
Namun, para ahli menilai kejadian itu lebih mengarah pada kasus terbatas dengan sumber paparan spesifik, bukan indikasi awal dari wabah global.
WHO pun mengimbau masyarakat untuk tetap waspada tanpa harus bereaksi berlebihan.
Fokus utama pencegahan adalah menghindari paparan lingkungan yang berpotensi terkontaminasi oleh hewan pengerat, terutama di area tertutup atau jarang dibersihkan.
Tentang Hantavirus hingga Gejalanya
Sebelumnya Hantavirus adalah keluarga virus yang biasanya menyebar melalui paparan urin, air liur, atau feses dari hewan pengerat yang terinfeksi, seperti tikus atau mencit.
Infeksi hantavirus jarang terjadi tetapi dapat menyebabkan infeksi pernapasan serius yang dikenal sebagai sindrom paru hantavirus.
Gejala biasanya dimulai dengan kelelahan, demam, dan nyeri otot, tetapi juga dapat meliputi sakit kepala, pusing, menggigil, dan masalah tambahan seperti mual, muntah, diare, dan sakit perut.
Penyakit ini kemudian dapat berkembang menjadi batuk, sesak napas, dan rasa sesak di dada karena paru-paru terisi cairan. Lebih dari sepertiga pasien yang mengalami gejala pernapasan dapat meninggal karena sindrom ini.
Baca tanpa iklan