Namun dalam praktik sehari-hari, masyarakat sering bingung membedakannya. Apalagi keduanya sama-sama bisa kambuh dan dipengaruhi makanan maupun stres.
Nyeri Dada Tidak Selalu GERD
Prof Murdani mengingatkan, masyarakat juga perlu berhati-hati menganggap semua nyeri dada sebagai GERD.
Sebab ada kondisi lain yang gejalanya menyerupai sakit lambung, termasuk penyakit jantung.
“Orang banyak kesalahan kaprah. Seolah-olah nyeri dada atau sakit perut karena GERD bisa mematikan,” katanya.
Menurutnya, yang sebenarnya bisa terjadi adalah keluhan akibat penyakit jantung justru disangka GERD.
“Boleh jadi adalah ada keluhan nyeri perut yang muncul karena penyakit jantung tapi ditafsirkan sebagai GERD,” ujarnya.
Karena itu ia mengingatkan pentingnya pemeriksaan medis untuk memastikan sumber keluhan.
GERD Ada yang Luka, Ada yang Tidak
Prof Murdani menjelaskan, GERD sendiri terbagi menjadi dua jenis.
Pertama, GERD erosif atau erosive esophagitis, yakni kondisi ketika ada luka atau peradangan nyata di kerongkongan.
Kedua, non erosive reflux disease (NERD), yakni kondisi ketika pasien mengalami gejala GERD tetapi tidak ditemukan luka secara fisik.
“Yang non erosif reflux disease ini sebenarnya gangguan fungsional,” jelasnya.
Pada tipe ini, keluhan sering dipicu sensitivitas tubuh yang tinggi terhadap stres maupun makanan tertentu.
“Stres kerjaan banyak dan belum tercapai, GERD-nya muncul,” katanya.
Meski sering kambuh, GERD jenis ini umumnya tidak berbahaya.
“Umumnya GERD jenis ini enggak membahayakan, enggak bikin komplikasi apa-apa ke depannya,” ujar Prof Murdani.
Baca tanpa iklan