Namun pada GERD erosif, ada sebagian kecil kasus yang berisiko berkembang menjadi gangguan lebih serius pada kerongkongan.
Karena itu masyarakat tetap dianjurkan melakukan pemeriksaan bila gejala sering berulang.
Sama-sama Dipengaruhi Makanan
Menurut Prof Murdani, baik GERD maupun IBD sama-sama bisa dipengaruhi pola makan.
Namun pemicunya bisa berbeda pada setiap orang.
“Untuk makanan memang terus terang ada ruang untuk negosiasi dan biasanya itu individual sekali,” katanya.
Pada GERD, makanan berlemak dan gorengan sering memicu keluhan.
Sedangkan pada IBD, makanan tertentu juga dapat memperburuk peradangan.
“Untuk IBD, alkohol, merokok, emulsifier, gula murni, enggak bagus,” jelasnya.
Meski begitu, ia mengingatkan masyarakat tidak asal memberikan pantangan makanan pada pasien IBD.
Sebab kondisi setiap pasien berbeda.
“Pantangan yang salah bisa justru memperburuk penyakitnya atau dampak dari penyakitnya, khususnya status nutrisinya,” ujarnya.
Pada pasien IBD yang sedang mengalami flare atau kekambuhan berat, serat biasanya dikurangi sementara untuk membantu mengurangi frekuensi diare.
Namun saat kondisi remisi, pola makan bisa lebih longgar.
IBD Bisa Berlangsung Seumur Hidup
Prof Murdani menjelaskan, IBD merupakan penyakit kronis yang dapat berlangsung lama bahkan seumur hidup.
Namun kondisi pasien bisa tetap stabil bila pengobatan dilakukan dengan tepat.
Baca tanpa iklan