Akibat reaksi peradangan yang berlangsung terus-menerus, jaringan lemak dan otot di sekitar bola mata mengalami pembengkakan.
Kondisi inilah yang akhirnya membuat mata tampak semakin menonjol.
“Karena memang pada otot mata ini ada zat atau fibroblast yang dia dapat menerima si antigen dari hormon thyroidnya itu sendiri sehingga lama-lama terjadi reaksi peradangan,” jelasnya.
Selain menyebabkan mata tampak melotot, pembengkakan jaringan juga bisa memengaruhi gerakan mata.
Akibatnya, sebagian pasien mulai mengalami penglihatan ganda atau dobel.
Masalahnya, gejala hipertiroid sering samar. Banyak orang tidak menghubungkan keluhan sehari-hari dengan gangguan hormon.
Beberapa gejala yang sering muncul antara lain:
- tangan sering gemetar,
- mudah berkeringat,
- berat badan sulit naik,
- sering merasa panas,
- lebih sering buang air besar,
- jantung berdebar,
- mudah gelisah.
Karena tidak spesifik, kondisi ini sering baru terdeteksi ketika perubahan pada mata mulai terlihat jelas.
Perempuan Usia di Atas 40 Tahun Lebih Berisiko
Menurut dr. Tri, thyroid eye disease lebih banyak ditemukan pada perempuan. Risikonya meningkat pada usia di atas 40 tahun.
Data yang dipaparkan menunjukkan sekitar 50 persen pasien penyakit tiroid dapat mengalami gangguan mata. Sementara mayoritas kasus berkaitan dengan kondisi hipertiroid.
“Perempuan memang lebih 5 kali lebih berisiko,” jelas dr. Tri.
Selain faktor genetik, stres dan kebiasaan merokok juga dapat memperburuk kondisi. Baik perokok aktif maupun pasif disebut memiliki risiko lebih tinggi mengalami perburukan gejala.
Tidak Hanya Mengganggu Mata, Tapi Juga Kualitas Hidup
Perubahan bentuk mata ternyata tidak hanya berdampak fisik. Menurut dr. Tri, banyak pasien mengalami perubahan psikologis karena penampilan yang berubah.
Sebagian menjadi tidak percaya diri. Ada yang mulai menarik diri dari lingkungan sosial.
Bahkan beberapa pasien disebut memilih berhenti bekerja karena merasa tidak nyaman dengan perubahan wajahnya.
Baca tanpa iklan