Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan gangguan sakit kepala memengaruhi sekitar 40 persen populasi global, sementara migrain menjadi salah satu penyebab utama disabilitas neurologis.
Di Indonesia, prevalensi migrain diperkirakan mencapai 11 hingga 12 persen populasi.
Kondisi ini juga lebih banyak ditemukan pada perempuan dibandingkan laki-laki dan sering menyerang kelompok usia produktif 25 hingga 55 tahun.
Menjawab anggapan bahwa risiko migrain meningkat saat memasuki usia kepala empat, dr. Ivana mengatakan migrain memang masih sering dialami pada rentang usia tersebut.
Menurutnya, sejumlah faktor dapat membuat frekuensi migrain meningkat, mulai dari perubahan hormon menjelang perimenopause pada perempuan, stres pekerjaan dan keluarga, pola tidur yang tidak teratur, hingga penyakit penyerta seperti hipertensi dan gangguan kecemasan.
Namun, ia mengingatkan agar tidak menganggap remeh sakit kepala berat yang baru muncul pertama kali setelah usia 40 tahun.
"Jika seseorang baru pertama kali mengalami sakit kepala berat setelah usia 40 tahun, sebaiknya diperiksakan ke dokter untuk memastikan tidak ada penyebab lain yang lebih serius," katanya.
Selain faktor usia dan hormon, pola makan juga berperan penting terhadap munculnya migrain.
Pemicu Migrain, Kandungan MSG hingga Kafein dan Alkohol Berlebih
Dr. Ivana menjelaskan setiap penderita memiliki pemicu yang berbeda, namun beberapa jenis makanan kerap dikaitkan dengan serangan migrain.
Makanan olahan dengan kandungan MSG berlebih, daging olahan seperti sosis dan kornet, keju fermentasi, cokelat pada sebagian orang, minuman berkafein berlebihan, alkohol, hingga pemanis buatan tertentu termasuk yang perlu diwaspadai.
Sebaliknya, konsumsi sayur dan buah segar, ikan kaya omega-3 seperti salmon dan tuna, kacang-kacangan, biji-bijian utuh, serta menjaga kecukupan cairan dapat membantu menurunkan risiko kekambuhan.
"Selain jenis makanan, pola makan yang teratur juga penting karena telat makan sering menjadi pemicu migrain," ujarnya.
Dr. Ivana menyarankan penderita segera beristirahat di ruangan yang tenang dan minim cahaya, mengurangi paparan suara keras maupun layar gawai, memperbanyak minum air putih, serta melakukan kompres dingin pada dahi atau belakang leher.
Pada kondisi tertentu, obat pereda nyeri sesuai anjuran dokter juga dapat digunakan. Beristirahat atau tidur sejenak juga kerap membantu meredakan gejala.
"Semakin cepat migrain ditangani sejak gejala awal muncul, biasanya hasilnya akan lebih baik," katanya.
Baca tanpa iklan