Wa innā la jā‘ilūna mā ‘alayhā ṣa‘īdan juruzā.
Artinya: Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menjadikan (pula) apa yang di atasnya menjadi tanah yang tandus.
أَمْ حَسِبْتَ أَنَّ أَصْحَـٰبَ ٱلْكَهْفِ وَٱلرَّقِيمِ كَانُوا۟ مِنْ ءَايَـٰتِنَا عَجَبًا
Am ḥasibta anna aṣḥābal-kahfi war-raqīmi kānū min āyātinā ‘ajabā.
Artinya: Apakah kamu mengira bahwa orang-orang yang mendiami gua dan (yang mempunyai) tulisan yang terukir itu termasuk tanda-tanda kekuasaan Kami yang menakjubkan?
إِذْ أَوَى ٱلْفِتْيَةُ إِلَى ٱلْكَهْفِ فَقَالُوا۟ رَبَّنَآ ءَاتِنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةًۭ وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًۭا
Idz awal-fityatu ilal-kahfi faqālū rabbanā ātinā min ladunka raḥmatan wa hayyi’ lanā min amrinā rasyadā.
Artinya: (Ingatlah) ketika para pemuda itu berlindung ke dalam gua, lalu mereka berdoa, “Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu, dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami.”
(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)
Baca tanpa iklan