TRIBUNNEWS.COM - Memoar Broken Strings karya Aurelie Moeremans yang belakangan viral membuka kembali diskusi publik tentang child grooming. Banyak dari kita yang terkejut, marah, dan berempati pada kisah yang diungkap. Namun, percakapan publik kerap berhenti pada sensasi dan sosok pelaku, bukan pada pertanyaan yang justru lebih penting: “Bagaimana grooming bisa terjadi tanpa disadari, bahkan oleh korbannya sendiri?”
Jawabannya ternyata bukan pada kekerasan fisik yang datang tiba-tiba, tetapi pada kata-kata. Penelitian menunjukkan bahwa grooming bukanlah tindakan spontan, melainkan proses komunikasi yang sistematis dan bertahap. Menurut Craven, dkk. (2006), grooming adalah rangkaian strategi relasional yang dirancang untuk membangun kepercayaan, ketergantungan emosional, dan kepatuhan anak sebelum kekerasan seksual terjadi. Dengan kata lain, kekerasan tidak dimulai dari sentuhan, tetapi dari kata-kata.
Dalam kajian komunikasi interpersonal, grooming bekerja melalui mekanisme yang menyerupai pembentukan relasi intim: ada kedekatan, perhatian, dan rasa aman. Namun, relasi ini dibangun di atas ketimpangan kuasa, usia, pengalaman, dan otoritas yang dimanfaatkan pelaku secara sadar (Rohmah dkk., 2024).
Mengapa korban kerap tidak menyadarinya? Ini bagian yang paling menyedihkan. Karena prosesnya sangat pelan, korban—yang seringkali masih anak-anak, menjadi bingung membedakan mana kasih sayang tulus dan mana yang manipulasi. Bahasa yang digunakan sering kali terdengar hangat dan suportif, sehingga sulit dibedakan dari relasi yang tampak wajar.
Memoar Broken Strings memperlihatkan pola ini secara nyata. Relasi yang awalnya terasa aman perlahan berubah menjadi relasi yang mengekang. Perubahan itu tidak terjadi secara drastis, melainkan melalui komunikasi yang halus, berulang, dan konsisten, hingga batas-batas personal korban perlahan bergeser tanpa disadari.
Penelitian-penelitian terdahulu menunjukkan bahwa grooming jarang menggunakan bahasa yang kasar atau mengancam. Justru sebaliknya, pelaku kerap menggunakan kalimat afirmatif seperti “kamu berbeda dengan anak-anak seusiamu, kamu lebih dewasa dari yang lain”, “aku satu-satunya yang benar-benar mengerti kamu”, atau “ini rahasia kita”. Bahasa semacam ini membingkai relasi sebagai sesuatu yang istimewa dan eksklusif, sekaligus mengisolasi korban dari lingkungan sosialnya (Lorenzo-Dus dkk., 2023; Rachmawati dkk., 2023; Winters dkk., 2022).
Terdengar romantis? Padahal, itu adalah taktik. Tujuannya agar korban merasa spesial, lalu pelan-pelan menjauh dari teman atau keluarga, dan akhirnya bergantung kepada sang pelaku.
Dalam perspektif komunikasi, strategi ini berfungsi membangun ketergantungan emosional. Ketika relasi dikonstruksikan sebagai “unik” dan “berbeda dari yang lain”, korban kehilangan titik pembanding untuk menilai apakah relasi tersebut sehat atau tidak. Bahasa tidak hanya menyampaikan pesan, tetapi juga membentuk realitas sosial korban.
Hal ini juga yang memicu banyak korban grooming tidak langsung merasa dirinya sedang menjadi korban. Penelitian menunjukkan bahwa proses normalisasi melalui komunikasi membuat perilaku yang melanggar batas terasa wajar karena diperkenalkan secara bertahap. Ketika perhatian dan manipulasi hadir bersamaan, batas antara kasih sayang dan kekerasan menjadi kabur.
Memoar Broken Strings juga memperlihatkan bahwa korban baru sadar mengalami grooming setelah bertahun-tahun kemudian. Temuan ini sejalan dengan berbagai studi yang menunjukkan bahwa korban baru menyadari kekerasan setelah memiliki jarak emosional dan kematangan kognitif untuk menilai ulang pengalaman masa lalu. Ketidaksadaran korban, dengan demikian, bukanlah kegagalan mereka, melainkan hasil dari proses komunikasi yang manipulatif dari pelaku dewasa yang bejat.
Dalam konteks budaya digital hari ini, proses grooming menjadi semakin kompleks. Penelitian lanjutan menunjukkan bahwa media sosial dan ruang privat daring memungkinkan relasi intens terbentuk tanpa pengawasan langsung dari lingkungan sekitar (Rayz dkk., 2022). Namun, persoalan utamanya bukan semata teknologi, melainkan pola komunikasi yang kita anggap normal. Budaya yang menekankan kepatuhan pada orang dewasa, menjaga rahasia, dan tidak mempertanyakan niat baik seseorang justru memperbesar kerentanan anak.
Di titik inilah kisah personal seperti Broken Strings menjadi penting bagi kesadaran kolektif. Memoar ini bukan sekadar pengakuan individu, melainkan cermin sosial tentang bagaimana komunikasi dapat digunakan sebagai perangkap. Ketika pengalaman personal dibaca bersama temuan-temuan penelitian, kita diajak melihat bahwa grooming adalah persoalan struktural dalam relasi, bahasa, dan budaya komunikasi kita.
Memahami grooming sebagai proses komunikasi bukan hanya relevan bagi akademisi, tetapi juga bagi masyarakat luas. Pencegahan tidak cukup dilakukan dengan larangan atau pengawasan semata, melainkan melalui literasi komunikasi—kemampuan mengenali manipulasi bahasa, memahami batas relasi yang sehat, dan menciptakan ruang dialog yang aman bagi anak.
Semoga dengan memahami bagaimana grooming bekerja, bagaimana ia dimulai dari perhatian, dibungkus dalam bahasa kasih sayang, dan perlahan menjelma menjadi perangkap seperti yang dialami Aurelie tidak terus berulang. Dan semoga, dengan kesadaran ini, semakin sedikit “Aurelie kecil” lainnya yang harus tumbuh sambil membawa luka yang seharusnya tidak pernah menjadi bagian dari masa kanak-kanak mereka.
Baca tanpa iklan