TRIBUNNEWS.COM, BOGOR - Teknisi pesawat ATR 42-500, Dwi Murdiono hingga kini masih dalam pencarian Tim SAR gabungan. Pesawat nahas tersebut jatuh di Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan (Sulsel) pada Sabtu (17/1/2026).
Dwi Murdiono dan keluarga tinggal di Perumahan Puri Indrakila, Desa Sasak Panjang, Kecamatan Tajurhalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Korban dikenal sebagai sosok familly man dan sangat sayang terhadap keluarganya.
Hal itu diungkap oleh kerabat korban, Dewi Hu.
"Keseharian ya ini sama anak-anak. Jadi kalau di saat gak sibuk dia bawa anak-anak untuk ke mana, jalan," ujarnya, Kamis (22/1/2026).
Kepulangan Dwi Murdiono pun sangat dinantikan oleh sang istri, Shinta Jayanti dan ketiga anaknya yang masih kecil.
Apalagi, Dwi Murdiono sebelumnya telah merencanakan waktu untuk bersama anak-anaknya sepulang betugas pada akhir pekan kemarin.
"Nah ini sebetulnya harusnya pulangnya hari Minggu malam ya. Terus katanya hari Senin itu cuti. Nah cuti, udah janji sama anak-anak, mau ngajak jalan," katanya.
Dari pernikahan Dwi Murdiono dan Shinta Jayanti, keduanya dikaruniai tiga anak yang terdiri dari dua laki-laki dan satu perempuan.
Anaknya pertamanya merupakan laki-laki berinisial R yang duduk di bangku kelas 2 SMP, kemudian putra keduanya berinisial F duduk di kelas 5 SD, dan putri kecilnya berinisial A masih duduk di bangku kelas 2 SD.
Buah hatinya yang belum mengerti banyak hal itupun terus menanyakan sang ayah yang tak kunjung pulang dan telah berjanji akan bermain bersama.
Pertanyaan polos yang dilontarkan oleh sang anak pun pembuat Shinta Jayanti sebagai ibu bingung untuk menjawabnya.
"Jadi anak-anaknya kan nanya, 'Abi mana? Katanya mau pulang, kok ini, ini' gitu. Jadi Mbak Shintanya drop lagi, bingung mau jawabnya," katanya.
Lebih lanjut, pihak keluarga pun berharap Dwi Murdiono bisa segera ditemukan dengan mukjizat dalam kondisi selamat.
Foto dari Jendela Pesawat
Dewi Hu mengungkapkan sebelum hilang kabar, Dwi Murdiono masih berkomunikasi dengan istrinya.
Baca tanpa iklan