TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Tradisi melepas burung, merupakan budaya ritual keagamaan umat Tionghoa saat merayakan Tahun Baru Imlek.
Pemandangan itu banyak ditemukan di rumah peribadatan, termasuk di Vihara Dharma Bhakti, Petak Sembilan, Glodok, Jakarta Barat, Selasa (17/2/2026).
Jube, pria keturunan Tionghoa asal Kemayoran, adalah salah satu yang melaksanakan ritual itu.
Usai berdoa bersama, Jube dan keluarga menghampiri penjual burung yang biasa berjualan di samping vihara.
Tak sampai lima menit, puluhan burung pipit dalam sebuah kotak kini sudah ada di tangan Jube, siap dilepaskan.
Ritual ini rutin ia lakukan setiap tahun. Total 100 burung yang Jube dan keluarga lepas.
"Angka bagus saja (100), pokoknya jangan angka 4," kata Jube di lokasi usai melaksanakan ritual.
Juba memercayai melepas burung saat Imlek merupakan tanda kebebasan. Serta membuang jauh kesialan dan memanggil keberuntungan.
"Melambangkan kebebasan sebenarnya, buang sial, bawa hoki," jelasnya.
Jube bersama tiga orang keluarga tampak bersama-sama membuka kotak berisikan burung.
Saat kotak dibuka, secepat kilat burung-burung mengapak sayap dan terbang bebas.
Tak lupa Jube meminta bantuan orang lain untuk mengabdikan momen mereka melepaskan burung.
Memasuki Tahun Kuda Api, Jube berharap ia dan keluarga selalu dalam keadaan sehat dan dapat rezeki berlimpah.
Terpisah, Rizki, penjual burung yang berlokasi tepat di sebelah Vihara Dharma Bhakti mematok harga burung pipit Rp.1.700 per ekor
Selain itu dia juga menjual jenis burung lainnya. Merpati dibanderol dengan harga Rp270 ribu per pasang.
Baca tanpa iklan