News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Kecelakaan Kereta di Bekasi Timur

Nuryati Ingin Berkurban Sebelum Wafat dalam Kecelakaan Kereta Api di Bekasi

Penulis: Gita Irawan
Editor: Theresia Felisiani
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

KECELAKAAN KERETA DI BEKASI TIMUR - Anak sulung korban kecelakaan kereta api di Stasiun Bekasi Timur Nuryati, Halimah, saat dipeluk pelayat di rumah duka di lingkungan RT 04 RW 08 Kelurahan Utan Panjang, Kecamatan Kemayoran, Jakarta Pusat pada Selasa (28/4/2026). (Gita Irawan/Tribunnews.com)

"Mi (panggilan adiknya kepada Halimah), aku sudah di IGD, kita terima, kata dokter Mamah sudah enggak ada (meninggal)," ungkap Halimah menirukan perkataan adiknya.

Halimah masih ingat keinginan terakhir yang diucapkan oleh almarhumah kepadanya.

Dia mengatakan almarhumah Nuryati ingin berkurban tahun ini.

"Mamah rencananya mau kurban di bulan nanti. Karena Mamah kan biasanya kurban hampir setiap tahun. Insya Allah, nanti kita kabulkan untuk Mamah berkurban," ungkapnya.

"Mamah mau kurban lagi. Oh ya sudah. Nanti masih sebulan lagi, kata aku," ujarnya. 

EVAKUASI GERBONG KRL - Sejumlah petugas gabungan TNI, Polri, Basarnas dan KAI melakukan evakuasi gerbong KRL yang ditabrak KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur, Jawa Barat, Selasa (28/4/2026). Petugas melakukan pemotongan gerbong KRL saat melakukan evakuasi korban tabrakan tersebut. Sebagai informasi dalam insiden tersebut ada tujuh penumpang meninggal dunia ementara 81 orang dilaporkan mengalami luka-luka. Tribunnews/Jeprima (Tribunnews/Jeprima)

Dalam tragedi itu, Nuryati meninggalkan delapan orang anak dan enam orang cucu.

Jenazah Nuryati rencananya dimakamkan di TPU Karet Bivak, Jakarta.

Terkini, total korban meninggal dunia dalam kecelakaan yang melibatkan KA Argo Bromo dan KRL tercatat mencapai 14 orang.

Sementara, sebanyak 84 orang mengalami luka-luka.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini