TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Suasana haru dan amarah menyelimuti kawasan legendaris Pasar Taman Puring, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (22/5/2026).
Satu unit alat berat jenis becho merangsek masuk dan meratakan puing-puing pasar yang terbakar pada Juli 2025 lalu itu dengan tanah.
Tindakan ini memicu reaksi keras dari ratusan pedagang yang merasa dikhianati oleh janji Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
Para pedagang kini menagih janji Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, yang diklaim sempat menyatakan akan membangun kembali pasar tersebut sesaat setelah musibah kebakaran terjadi sembilan bulan silam.
Keresahan pedagang memuncak setelah muncul pernyataan dari Wali kota Jakarta Selatan, Muhammad Anwar, yang menyebut eks-Pasar Taman Puring akan dialihfungsikan menjadi taman bagi penyandang disabilitas (taman difabel).
Perwakilan pedagang, Viki Arifandi (26), mengaku para pedagang merasa dijebak.
Sebelumnya, mereka bersedia membongkar lapak darurat secara sukarela karena dijanjikan pembangunan pasar akan segera dimulai melalui sistem koperasi Badan Pengelola Aset Daerah (BPAD).
"Kami merasa dibohongi. Awalnya dijanjikan lokasi ini akan dibangun kembali untuk pedagang. Karena itulah kami mau bongkar lapak sukarela. Tapi sekarang malah muncul berita mau dijadikan taman bermain," ujar Andi, Jumat (22/5/2026).
Baca juga: Kebakaran Pasar Taman Puring, Pedagang Sebut Ada Upaya Penjarahan Saat Evakuasi Barang
Saat alat berat mulai bekerja menghancurkan sisa-sisa harapan mereka, para pedagang langsung mendatangi Kantor Camat Kebayoran Baru yang berada tepat di seberang lokasi.
Mereka mendesak agar rencana pembangunan taman difabel tersebut dihentikan.
Camat Kebayoran Baru, Rahmat Mulyadi, yang menemui massa menyatakan akan menyampaikan aspirasi tersebut ke tingkat kota. Namun, jawaban itu belum memuaskan para pedagang.
"Kami tetap menagih janji Pak Gubernur untuk membangun pasar ini kembali. Kami tidak mau pindah ke Cidodol atau Mampang," tegas Andi.
Kebakaran hebat pada 28 Juli 2025 lalu setidaknya berdampak pada lebih dari 500 pedagang.
Sejak saat itu, kondisi ekonomi keluarga pedagang kian terpuruk karena kehilangan sumber penghasilan utama.
Kini, para pedagang meminta status lahan dibiarkan status quo atau tidak ada pembangunan apa pun sebelum ada titik temu.
Mereka juga berencana meminta audiensi dengan DPRD DKI Jakarta dan Gubernur Pramono Anung, untuk mencari solusi konkret.
Sebagai jalan tengah, pedagang mengusulkan agar proyek taman difabel dialihkan ke lahan bekas pom bensin di Jalan Bumi, Kelurahan Gunung, agar keberadaan pasar legendaris Taman Puring tetap bisa dipertahankan.
Baca tanpa iklan