TRIBUNNEWS.COM – Mobilitas masyarakat di kawasan Jabodetabek terus mengalami perubahan. Jika sebelumnya kendaraan pribadi menjadi pilihan utama untuk bepergian lintas kota, kini semakin banyak warga mulai beralih menggunakan transportasi publik yang dinilai lebih praktis, terjangkau, dan terintegrasi.
Tren tersebut terlihat dari meningkatnya jumlah pengguna layanan Transjabodetabek dalam beberapa bulan terakhir. Data Transjakarta mencatat jumlah pelanggan Transjabodetabek pada April 2026 mencapai 2.467.493 penumpang atau meningkat sekitar 22 persen dibandingkan Maret 2026, yakni 2.021.547 pelanggan.
Peningkatan tersebut menunjukkan antusiasme masyarakat terhadap layanan transportasi publik lintas wilayah yang semakin terkoneksi dengan Jakarta.
Menyadari kebutuhan itu, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta terus memperluas jangkauan layanan Transjabodetabek.
Rute Cawang–Cikarang Perkuat Konektivitas Kawasan Industri
Salah satu rute baru yang dihadirkan adalah Transjabodetabek B51 jurusan Cawang–Cikarang. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung meresmikan rute tersebut pada Rabu (11/2/2026) untuk melayani mobilitas masyarakat dari Cawang, Jakarta Timur, menuju kawasan industri Cikarang dan sekitarnya.
Kehadiran rute itu menjadi bagian dari upaya Pemprov DKI Jakarta memperkuat konektivitas transportasi publik lintas wilayah Jabodetabek, khususnya bagi para pekerja yang setiap hari beraktivitas di kawasan industri.
“Sebagaimana telah kami sampaikan sebelumnya, Jakarta akan membuka dua rute baru Transjabodetabek, salah satunya dari Cawang ke Cikarang. Hari ini, Rabu, rute Transjabodetabek B51 Cawang–Cikarang resmi dibuka dan diharapkan mampu mengurangi kemacetan yang selama ini terjadi,” ujar Pramono saat peresmian rute di Jakarta Timur, Rabu.
Pada tahap awal operasional, Pemprov DKI Jakarta menyiapkan 14 armada bus untuk melayani lintasan sekitar 89 kilometer pulang-pergi dengan 11 titik pemberhentian. Rute ini beroperasi setiap hari mulai pukul 05.00 hingga 22.00 WIB. Adapun tarif yang diberlakukan sebesar Rp2.000 pada pukul 05.00–07.00 WIB dan Rp3.500 pada pukul 07.00–22.00 WIB.
Rute B51 diproyeksikan melayani sekitar 1.705 penumpang per hari, terutama pekerja di kawasan industri Cikarang dan sekitarnya.
Waktu tempuh perjalanan dari Cawang menuju Cikarang sekitar 108 menit, sementara arah sebaliknya sekitar 105 menit.
Data Transjakarta menunjukkan jumlah pengguna rute B51 terus meningkat. Pada April 2026, layanan tersebut tercatat melayani 79.992 penumpang atau meningkat dibandingkan Maret 2026 sebanyak 54.734 pelanggan.
Baca juga: Sambut HUT Jakarta, Pemprov DKI Bebaskan Denda Pajak Kendaraan hingga Agustus 2026
Rute Blok M–Bandara Soetta Permudah Akses Menuju Bandara
Beberapa pekan setelah rute Cawang–Cikarang beroperasi, Pemprov DKI Jakarta kembali menghadirkan rute baru yang menyasar akses menuju bandara. Rute tersebut adalah Transjabodetabek SH2 jurusan Blok M–Bandara Soekarno-Hatta.
Pramono bersama Wali Kota Tangerang Sachrudin meresmikan layanan tersebut di Terminal Blok M, Jakarta Selatan, Kamis (12/3/2026). Rute ini menjadi alternatif transportasi publik yang lebih terjangkau bagi masyarakat yang hendak menuju bandara.
Berbeda dengan layanan Transjabodetabek reguler lainnya, rute SH2 menghadirkan layanan perjalanan langsung (direct service). Penumpang dari Blok M dapat menuju Bandara Soekarno-Hatta tanpa perlu berpindah kendaraan.
Layanan SH2 menggunakan armada Metrotrans berlantai rendah (low deck) yang dilengkapi rak bagasi untuk menyimpan barang bawaan penumpang seperti koper dan tas berukuran besar. Pada tahap awal operasional, layanan ini dilayani 14 armada bus yang beroperasi setiap hari mulai pukul 05.00 hingga 22.00 WIB.
Waktu tunggu penumpang berkisar 10 hingga 20 menit dengan kapasitas layanan sekitar 1.900 sampai 2.000 penumpang per hari. Adapun lintasan rute SH2 membentang sepanjang sekitar 65,1 kilometer dengan estimasi waktu tempuh kurang lebih 121 menit.
Antusiasme masyarakat terhadap layanan ini pun cukup tinggi. Selama April 2026, rute SH2 tercatat telah melayani 45.113 penumpang.
Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta Wibi Andrino menilai keberadaan rute tersebut memberikan alternatif transportasi publik yang lebih mudah dijangkau masyarakat.
“DPRD DKI Jakarta menyambut baik konektivitas antara Tangerang dengan Jakarta melalui rute Blok M–Bandara Soekarno-Hatta,” ujar Wibi, Kamis.
Menurutnya, tarif yang ditawarkan juga sangat terjangkau dibandingkan moda transportasi lain menuju bandara.
Pada masa awal peluncuran, Pemprov DKI Jakarta sempat memberlakukan tarif promo sebesar Rp3.500 selama tiga bulan untuk mendukung mobilitas masyarakat pada periode Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah. Setelah masa promosi berakhir, tarif layanan direncanakan berada di kisaran Rp10.000 hingga Rp15.000 menyesuaikan jarak tempuh dan biaya operasional layanan bandara.
“Kenapa yang Soekarno-Hatta berbeda? Yang pertama karena jauh, perhentiannya banyak, parkir di sananya juga cost-nya lebih tinggi dibandingkan di tempat lain,” kata Pramono, dikutip dari Tribunnews.com, Jumat (8/5/2026).
Ia menambahkan, penyesuaian tarif dilakukan agar beban subsidi dari Pemprov DKI Jakarta tidak terlalu besar.
“Setelah itu kami akan melakukan evaluasi karena memang bebannya terlalu berat dan juga subsidinya terlalu besar, kami akan menaikkan angkanya, range-nya antara Rp10.000 sampai dengan Rp15.000,” terang Pramono.
Transportasi Publik Jadi Bagian Gaya Hidup Kota Modern
Selain memperluas rute Transjabodetabek, Pemprov DKI Jakarta juga terus mendorong integrasi antarmoda melalui pengembangan layanan Transjakarta, MRT Jakarta, hingga LRT Jakarta.
Menurut Pramono, seluruh moda transportasi tersebut dirancang agar semakin inklusif, terjangkau, dan berkelanjutan sehingga dapat digunakan lebih banyak masyarakat dalam aktivitas sehari-hari.
“Semua moda transportasi ini bersifat inklusif, terjangkau, dan berkelanjutan. Meski tingkat konektivitas kita sudah mencapai 91 persen, penggunaannya belum maksimal. Mudah-mudahan, perencanaan ke depan untuk mengatasi kemacetan bisa lebih rinci dan menyeluruh,” tuturnya.
Melalui perluasan layanan Transjabodetabek, Pemprov DKI Jakarta berharap mobilitas warga Jabodetabek menjadi semakin mudah, efisien, dan terintegrasi. Di sisi lain, penguatan transportasi publik juga diharapkan dapat mendorong perubahan gaya hidup masyarakat perkotaan menuju mobilitas yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Baca juga: Wujudkan Jakarta Bersih, Pemprov DKI Ajak Warga Pilah Sampah
Baca tanpa iklan