Kenaikan harga yang menyentuh angka sekitar 25 persen ini dinilai sangat memberatkan, khususnya bagi masyarakat kelas menengah.
Septri (29), seorang warga Tanjung Barat yang juga tengah mengantre, mengkritik kebijakan ini.
Menurutnya, kelompok masyarakat kelas menengah kembali menjadi pihak yang paling merasakan beban dari rentetan kebijakan penyesuaian tarif, mulai dari pajak hingga bahan bakar.
"Naiknya lumayan tinggi ya, sekitar 25 persen. Lagi-lagi sektor kaum (kelas) menengah yang digenjot, mulai dari sektor pajak penghasilan yang makin digenjot, sampai sekarang ke BBM. Karena yang pakai Pertamax ini rata-rata kan memang kaum menengah," keluh Septri.
Kelas menengah adalah kelompok masyarakat yang berada di antara kelas bawah dan kelas atas berdasarkan tingkat pendapatan, pengeluaran, aset, pendidikan, maupun gaya hidup.
Kendati merasa terbebani dengan harga baru Pertamax, Septri mengaku masih ragu untuk beralih menggunakan BBM bersubsidi jenis Pertalite demi menjaga performa mesin kendaraannya.
"Sebenarnya mau ganti atau beralih ke Pertalite juga masih agak ragu, karena takut kualitas mesin motor jadi cepat rusak kalau pakai BBM RON rendah," pungkasnya.
Baca tanpa iklan