News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Teror Bom Buku

Munarman: Peneror Bom Buku Membenci Islam

Penulis: Rachmat Hidayat
Editor: Johnson Simanjuntak
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Cover buku pun lalu dirobek Kompol Dody dengan pisau dan tangan kirinya merobek. Di bagian tengah buku setebal 412 halaman tersebut terlihat berlubang.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Tim Advokasi Forum Umat Islam sekaligus Jubir Front Pembela Islam (FPI)  Munarman SH angkat bicara terkait maraknya aksi paket bom di beberapa tempat di Jakarta. Munarman menilai, si pelaku teror bom buku bukan orang sembarangan. Ia menduga pelakunya adalah orang yang membenci Islam yang terlatih.

"Si pembuat bom bukan menarget orang-orang yang dikirimi (paket buku bom) itu. Akan tetapi, tujuannya adalah agar pemuda Pancasila misalnya, kemudian marah. Lalu membenci tokoh-tokoh Islam," kata Munarman dalam perbincangan khusus dengan Tribun, Jumat (18/03/2011) kemarin.

Target yang akan dicapai oleh para pelaku teror itu, kata Munarman, mendeskreditkan organisasi Islam, selain tokoh Islam yang selama ini selalu kencang bersuara.

"Kalau dilihat modusnya, pelakunya orang terlatih. Saya yakin pelakunya orang yang membenci Islam kemudian berusaha mengadu domba dengan melakukan teror. Kita lihat saja, beberapa tokoh yang dikirimi paket, dipilih secara acak. Salah satunya di kantor Jaringan Islam Liberal (JIL). Padahal, JIL sudah lama bubar," papar Munarman. 

Kemudian teror di beberapa tempat, termasuk di ruang kerja Wakil Ketua DPR Taufik Kurniawan meski akhirnya tak terbukti bukan paket bom. Kemudian, di rumah Ketua Pemuda Pancasila, Yapto dan beberapa tempat lain.

"Kalau bukan orang terlatih, tak mungkin bisa merakit bom seperti itu. Buku-bukunya juga sudah disiapkan, hard cover semua. Bisa membuat buku demikian banyak, polisi saja belum tentu bisa merakit bom seperti itu, Membutuhkan latihan khusus," urainya.

"Tujuan pembuat bom ingin menghancurkan umat Islam. Sehingga masyarakat bergerak, media massa dijadikan provokator kemudian menyerang kelompok islam. Ini sebuah permainan yang dibuat yang anti Islam. Bisa saja ini dikatakan sebuah permainan intelijen," Munarman menandaskan.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini